Qosdus Story: Amien Rais dan Rahasia Sandiwara Politik

0
1934
Sang Reformis Sejati, Amien Rais

Oleh: Qosdus Sabil

Usiamu memang telah menua
Namun semangat dan nyalimu tetap muda
Disaat yang lain bisu tak bersuara
Engkau tetap lantang bicara

Pak Amien…
terkadang kami sedih dan tak tega melihatmu ikut berjibaku
Sering kami lugas memintamu untuk cukup menjadi Pandita Ratu
Namun, jawabmu sungguh membuat kami terharu
Itulah yang membuat kami tak henti mencintamu

Seorang pribadi berintegritas yang tak pernah rumit berpikir untuk menjaga kredibilitas palsu

Barakallah fii umrik Pak Amien

Penulis berbaju putih bersama Amien Rais tengah

Ada sebuah hal yang tidak terungkap ke ruang publik, tentang sebuah episode yang terjadi di kediaman Habib Rizieq Sihab di Kota Makkah. Hari itu, usai melaksanakan umrah Prabowo Subianto disertai beberapa tokoh sowan ke kediaman Habib Rizieq. Secara terpisah Pak Amien kemudian menyusul hadir di kediaman Habib.

Di depan para tamunya Habib Rizieq menanyakan sejauhmana kesiapan Prabowo Subianto untuk tampil menjadi Calon Presiden menghadapi Jokowi. Prabowo menjelaskan bahwa dirinya tidak siap maju karena persoalan ketiadaan dukungan finansial dan logistic politik yang diperlukan saat Pilpres.

“Hari ini saya katakan bahwa jujur saya sudah tidak punya uang. Semua asset saya telah dibekukan oleh rezim Jokowi. Semua bisnis saya dihambat. Termasuk bisnis yang dijalankan oleh adik saya Hasyim Djojohadikusumo banyak diganggu”, ujar Prabowo pasrah.

Hening sesaat, hingga kemudian Habib Rizieq mengatakan bahwa kita harus segera mendorong tokoh bangsa untuk tampil bertanding melawan rezim Jokowi. “Saya rasa tidak ada pilihan lagi, kecuali Ayatullah Amien Rais”, tegas Prabowo.

Sore itu lantas disepakati bahwa Pak Amien akan maju menjadi Capres didampingi Prabowo Subianto sebagai Cawapresnya.

Ada optimisme yang memenuhi benak para tokoh yang ikut hadir di kediaman Habib Rizieq tersebut. Berharap ada Mahathir effect dalam proses menuju Pilpres 2019.

Setiba di tanah air, tak kurang Letjen (Purn) Sjarwan Hamid langsung bergerak mengkonsolidasikan jaringan untuk merealisasikan Duet Pasangan Amien Rais-Prabowo Subianto. Beragam respon muncul, baik yang mendukung, ataupun yang meragukan. Beberapa pekan isu ini menggelinding. Pak Amien justru kemudian memilih mencarikan pasangan duet untuk Prabowo. Pilihan Pak Amien jatuh kepada Ustadz Abdul Somad, yang diamini oleh Habib Rizieq.

Kasak kusuk juga makin kencang melanda istana. Hingga untuk menandingi duet Prabowo-Somad itu diputuskanlah pasangan Jokowi adalah KH. Makruf Amin yang menjabat sebagai Ketua Umum MUI.

Detik-detik makin menentukan di awal pekan pertama bulan Agustus 2018 sesaat sebelum hari terakhir masa pendaftaran pasangan Capres-Cawapres ke KPU. Hingga akhirnya kita semua tahu, seorang Pengusaha Besar sekaligus Wagub DKI, Sandiaga Shalahudin Uno, menyatakan kesiapannya maju mendampingi Prabowo Subianto dan menyiapkan kebutuhan pendanaan pemenangan Pilpres.

Gegap gempita kampanye dengan model begitu terbuka, menunjukkan kualitas demokrasi Indonesia yang semakin berkelas.

Adu gagasan, adu kekuatan massa, dan adu kekuatan jaringan finansial untuk pembiayaan kampanye politik pasangan capres-cawapres menjadi hal baru dalam sejarah politik di negeri ini.

Penulis Bersama Menhan Prabowo Subianto

Kita akhirnya disuguhkan oleh sebuah fragmen akhir sandiwara politik yang semakin memuakkan. Makin menurunnya izzah dan marwah politisi yang semakin jauh dari sikap negarawan.

Entahlah, apalagi yang akan menimpa negeri ini ketika semua sistem demokrasi telah dikangkangi oleh super power oligharki politik.

Situasi dimana perilaku politik elit semakin tidak terpuji, akibat praktik money politik yang semakin gamblang dipertontonkan di tengah masyarakat.

Rakyat tidak memiliki perlindungan hukum yang pasti atas hak-hak hajat hidupnya ketika ia berhadapan dengan kepentingan pemodal.

Rakyat semakin merana ketika sekedar untuk mencari kerja saja makin susah. Sementara arus masuknya pekerja dari China terus membanjiri hingga ke pelosok negeri.

Di tengah proses ikhtiar memperbaiki kualitas demokrasi bangsa, sebagai partisipasi kelompok civil society dalam menghadapi Pilpres 2019, kami bersama komponen muda Muhammadiyah membentuk sebuah Aliansi Pencerah Indonesia (API).

Bersama rombongan Presidium API yang terdiri dari M.Izzul Muslimin, Ma’mun Mu’rod Al-Barbasy, Qosdus Sabil, Hazuarli, Fikri Yasin, Pedri Kasman dan Mashuri Masyhuda, kami sowan menghadap Pak Amien di Gandaria.

Kami sampaikan juga maksud untuk meminta arahan dan nasehat dari Pak Amien. Kami juga menyampaikan permintaan kepada Beliau untuk bersedia Ketua Dewan Penasehat Aliansi Pencerah Indonesia.

Tapi, apa jawab Pak Amien. Beliau sama sekali tidak bersedia menjadi Penasehat.
“Buat apa saya jadi penasehat kalian, tetapi kalau ada sesuatu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya disuruh memberi nasehat saja… Saya mau kalau saya menjadi Ketua Dewan Pengarah. Jadi saya langsung bisa mengarahkan kemana kalian mesti melangkah untuk perjuangan kita yang sangat berat ini…”

Suatu ketika, pernah saya ingin menguji sejauhmana kecintaan kader Muda Muhammadiyah terhadap sosok Amien Rais.

Saat saya secara mendadak diminta mengisi materi Strategi dan Taktik Perjuangan pada Darul Arqam Dasar (DAD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang tahun 1996.

Di siang bolong yang terik itu, saya sampaikan sekilas info breaking news tentang kabar meninggalnya Pak Amien. Spontan histeris seisi ruangan. Hening sejenak lalu berganti suara isak tangis yang menyayat hati.

—Amien Rais, sang pencetus isu suksesi, adalah tokoh nasional yang paling ditakuti rezim Soeharto. Hari itu adalah hari-hari dimana media massa selalu memburu statemen seorang Amien Rais.

Sosok Amien Rais paling diharapkan untuk tampil memimpin negeri, menggantikan rezim yang sarat dengan praktik Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN).—

Saya menghela nafas panjang menyaksikan itu, terlihat beberapa panitia ikut meneteskan airmata. Sejenak kemudian, saya berhenti bicara untuk memberikan kesempatan kepada para peserta menumpahkan kesedihannya. Beberapa diantaranya lantas bersuara lantang sembari terisak, bahwa mereka siap meneruskan apa yang telah diperjuangkan oleh Pak Amien.

Masih segar dalam ingatan saya betapa histerisnya seorang Muazar Habibie (Prof. Dr. M.A.Muazar Habibie, M.Psi/Pengasuh Boarding School Lentera Hati NTB, pen.) yang saat masih SMA pernah bersama-sama saya telah mengikuti Latihan Instruktur II PW IPM Jatim, seangkatan bersama M. Izzul Muslimin, Irfan Islami, Muh. Syamsuddin dari Yogyakarta(di kemudian hari menjadi para Pimpinan Pusat IRM).

Muazar sebagai peserta DAD dengan pengalaman pengkaderan yang cukup panjang di IPM/IRM menangis tersedu dan meledak emosinya karena merasa kehilangan tokoh idolanya yang bernama Amien Rais.

Muazar Habibi berteriak histeris dan menceritakan bahwa ia baru beberapa hari yang lalu bertemu muka dengan Pak Amien. ia pun berjanji akan meneruskan perjuangan yang telah dimulai oleh Amien Rais. Peserta yang lain-pun secara bergiliran menyampaikan doa dan harapannya semoga akan segera lahir Amien Rais-Amien Rais yang baru….

Mendengarkan respon peserta seperti itu, saya segera bangkit dari tempat duduk saya seraya bertepuk tangan dan mengepalkan tangan ke udara diiringi pekikkan takbir…
Bahagia melihat para kader siap setiap saat untuk dapat melanjutkan estafet sebuah kepemimpinan dalam perjuangan….

Dipecundangi Kader Sendiri
Mohammad Amien Rais telah kehilangan daya pesonanya. Bahkan, kini ia telah dipecundangi oleh kader dan besannya sendiri….

Begitulah pandangan publik yang mengemuka tak lama usai perhelatan Kongres PAN di Kendari pada bulan Februari 2020 lalu. Apakah betul demikian? Kita boleh saja berspekulasi tentang bagaimana seorang Amien Rais terlihat begitu kecewa. Raut wajahnya yang telah mulai menua itu terlihat begitu lelah. Sangat bisa dipahami ketika publik kembali mengejek dan mencemoohnya. Terutama ketika muncul spekulasi akan segera lahirnya PAN Reformasi.

Dialektika Perbewsanan Menjadi Dialektika Kepartaian

Tetapi, begitulah Amien Rais. Ia tidak pernah merasa perlu memberikan banyak klarifikasi. Yang pasti usai penetapan struktur pengurus DPP PAN oleh Zulkifli Hasan. Konflik hebat yang melanda saat Kongres begitu cepat telah dianggap selesai.

Pekan ini Amien Rais kembali sibuk bergerak melawan setiap hal yang dinilainya membawa mudharat bagi bangsa dan negara.

Perpu penanganan wabah covid-19 sangat rawan menjadi goverment failure. Anggaran besar triliunan rupiah menjadi sangat rentan dikorupsi dengan terang benderang.

Amien Rais tidak ragu sedikitpun untuk bersama segenap Masyarakat Sipil membawa Perpu tersebut untuk pengajuan judicial review ke Mahkamah Konstitusi.

Pak Amien…
Barakallah fii umrik
Semoga Jenengan sehat selalu

 

Qosdus Sabil, Santri Pengelana kelahiran Lamongan ini telah lama menyepikan dirinya dari dunia jurnalisme. Bekerja sebagai Konsultan berbagai Project Bidang Pertanian, Perikanan dan Kelautan, serta Program-program Pengembangan Kawasan Perdesaan dan Kawasan Perbatasan Republik Indonesia.
Kini, ia aktif menjadi Penasehat PRM Legoso-Ciputat.

26 April 2020/3 Ramadhan 1441

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.