Qosdus Story: Djazman Al Kindi, Jelas Beda, Hentikan Bandingkan IMM dan HMI

0
953
Saat Silaturrahmi ke Kediaman Pak Djazman di Kaliurang, nampak dari kiri ke kanan: Duduk: Alm. Nidzhom Hidayatullah, Bu Ellyda, Pak Djazman, Penulis. Berdiri: Nasrullah, Rofiq, Indah, Harry, Agus Luqman, Susenoaji.

Oleh : Qosdus Sabil

Yogya selalu mampu menyimpan kenangan
dengan sangat indah dan mengesankan
Terlebih, jika kita bersilaturrahmi kepada para Tokoh pergerakan
Sowan ke kediaman Pak Djazman hampir tidak pernah terlewatkan
Sambutan Beliau kepada tamu begitu menggembirakan….

Sepenggal sajak diatas menggambarkan salah satu kehebatan tokoh Muhammadiyah bernama Mochammad Djazman Al Kindi.

Beliau selalu mencoba mengamalkan sunnah memuliakan tamu sebaik mungkin.
Suatu waktu saya bersama Muazar Habibi sowan ke rumah Beliau. Saat itu Beliau sudah lebih banyak menetap di Kaliurang. Namun, Beliau mempersilahkan kami untuk bertemu di rumah Beliau di Jl. Nyai Ahmad Dahlan. Beliau diiringi Bu Ellyda memilih turun ke Kota Yogya. Beliau tidak mau merepotkan tamunya menuju Kaliurang.

Malam itu hujan gerimis, saya dan Muazar berjalan dari Gedung PP Muhammadiyah KHA Dahlan 300 m tempat kami menginap, menuju Kediaman Pak Djazman.
Setiap kali saya bertandang ke rumah Beliau, saya selalu dipersilahkan harus makan terlebih dulu sebelum pulang.

Usai diskusi panjang, Beliau menyuguhkan Bakmi Godhog Jogja yang begitu nikmat…

Di waktu yang lain, dalam rangka mempersiapkan agenda Silatnas Fokal IMM se-Indonesia di Kampus UMM tahun 1997, saya mendapatkan tugas untuk melaporkan persiapan acara sekaligus meminta kesediaan Pak Djazman hadir.

Bersama Pak Djazman Al-Kindi di sela acara Musyda DPD IMM Jatim tahun 1993 di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Nampak Penulis kedua dari kanan.

Saat itu, kondisi Pak Djazman sedang sakit. Dan masih harus istirahat total. Namun, begitu Beliau mengetahui ada telepon dari kadernya, yang datang jauh dari kota Malang, Beliau dengan gembira mempersilahkan saya datang ke rumah Beliau di Kaliurang.

Saya sangat berterimakasih kepada Mas Husni Amriyanto (saat itu masih menjabat sebagai PD 3 Fisipol UMY), yang lantas menugaskan seorang driver untuk mengantarkan saya ke rumah Pak Djazman menggunakan mobil operasional Fakultas.

Saat saya sampai di rumah Pak Djazman, saya langsung diantarkan asistennya masuk menuju kamar Pak Djazman.

Tidak nampak dimata saya ada guratan bekas sakit di wajah Pak Djazman. Pak Djazman begitu sumringah. Hanya, sesekali Beliau harus menghirup oksigen murni dari selang dan tabung yang disiapkan disamping tempat duduknya.

Pak Djazman selalu gembira jika kadernya datang memberi kabar tentang perkembangan IMM dan para Alumninya. Beliau menyimak setiap penuturan saya dengan penuh perhatian.
Beliau akan sangat serius memberikan tanggapan, jika hal itu terkait dengan permasalahan klasik di PTM-PTM terkait sikap tidak ramah pihak Rektorat terhadap pembinaan aktivitas IMM di kampus milik Muhammadiyah…

Pak Djazman dalam setiap diskusinya bersama saya sering memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait bagaimana membangun relasi antar kader dengan baik.
Dari sentuhan tangan dingin Pak Djazman-lah Universitas Muhammadiyah Surakarta tumbuh pesat menjadi salah satu kampus terkemuka dan terbesar di Indonesia.
Pak Djazman sangat memperhatikan proses kaderisasi kepemimpinan sejak masa mahasiswa.

Legacy Pak Djazman di kampus UMS, menjadi acuan penting bagi kampus-kampus PTM di seluruh Indonesia dalam melakukan proses pembinaan kader dan transformasi kepemimpinan.

Pernah, usai menghadiri tabligh akbar Kokam di stadion Mandala Krida Yogyakarta, kami serombongan dari Malang bersilaturrahmi ke kediaman Pak Djazman.
Dari Pak Djazman, kami mendapatkan sudut pandang yang berbeda menyorot gerakan Reformasi yang dipelopori oleh Amien Rais.

Pak Djazman mengingatkan kami untuk selalu bersikap kritis, sekaligus terus berpikir dan bekerja lebih keras menyiapkan segenap komponen Muhammadiyah dalam menyongsong reformasi di negeri ini.

Gerakan reformasi dan suksesi kepemimpinan nasional yang dicetuskan oleh Pak Amien, tentu tidak dapat dipisahkan dari kapasitas Pak Amien sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pak Djazman meminta kami untuk mengawal perjuangan Pak Amien. Statement yang cukup mengejutkan kami, mengingat warga Muhammadiyah telanjur menduga bahwa hubungan diantara Pak Djazman dan Pak Amien sedang kurang harmonis…

Seperti biasa, –dan ini yang membedakan setiap kunjungan saya kepada Tokoh-tokoh PP Muhammadiyah pada umumnya– Pak Djazman pasti akan mengajak kami makan terlebih dahulu. Didampingi Bu Ellyda, Beliau menjamu kami dengan menu makan malam yang sangat sempurna di sebuah Restoran “Sari Raja” milik Boss Primagama di Jalan Raya Kaliurang-Yogyakarta.

Melanjutkan obrolan dan canda tawa usai jamuan makan malam

Sembari makan, Pak Djazman seolah tidak ingin  berhenti bercengkrama bersenda gurau dengan anak-anak ideologisnya. Seolah ingin menghilangkan kerinduannya setelah lama berpisah…

Di pundak kader-kadernya inilah, Pak Djazman menaruh harapan besar akan keberlangsungan proses transformasi kepemimpinan di tubuh Persyarikatan.

Kepemimpinan yang lahir dari rahim Persyarikatan diharapkan akan dapat tampil memberi warna dalam kancah kebangsaan dan kenegaraan Indonesia…

Irwan Setiabudi, seorang junior kami di IMM Peternakan Universitas Brawijaya menuturkan pengalamannya ketika bertandang ke Rumah Pak Djazman. “Aku pernah Kang Dus, sama Boy (Pradana Boy ZTF,pen) ke rumah Pak Djazman”. “Usai diskusi dengan Beliau, kami-pun diajak makan terlebih dahulu, bahkan pulangnya kami diantar sampai terminal, disopiri oleh Pak Djazman sendiri”…

Inilah akhlak seorang Tokoh Muhammadiyah yang sulit dicari padanannya. Hubungan yang terbangun bukan sekedar sebagai senior-junior. Namun, lebih dari itu, Pak Djazman telah memberikan teladan kemuliaan dan perhatian yang begitu besar kepada kader-kadernya, laksana cinta dan kasih sayang dari orang tua kepada anak-anaknya sendiri.

Pak Djazman-pun sering berpesan: “Saya sudah punya anggaran khusus untuk mendatangi undangan IMM. Jadi tidak usah berpikir untuk nyangoni saya. Saya InsyaAllah pasti akan datang, berangkat sendiri menghadiri acara kalian”.

Di kalangan Aktivis HMI, saya mendapat banyak cerita bahwa Bang Akbar Tanjung sekarang banyak mencurahkan waktunya untuk HMI. Bang Akbar akan hadir kemanapun di pelosok negeri ini, jika yang mengundangnya adalah kader-kader HMI.

Begitulah jika kecintaan terhadap organisasi menjadi bagian dari legacy seorang tokoh dalam memelihara proses transformasi dan kaderisasi pemimpin umat, bangsa dan negara

Pak Djazman sering mengingatkan: “Hentikan untuk selalu membanding-bandingkan IMM dengan HMI. Karena keduanya jelas berbeda”…

IMM lahir karena sebuah amanat Muhammadiyah. Muhammadiyah tidak bisa lagi menitipkan proses pengkaderan Mahasiswa-mahasiswanya melalui organisasi yang tidak memiliki ikatan hubungan struktural, maupun ikatan emosional bersama Muhammadiyah.
Berdirinya IMM sedikitpun tidak dipengaruhi karena faktor HMI yang hendak dibubarkan oleh Orde Lama.

Fakta sejarah bahkan telah mencatat dengan terang benderang, bahwa setelah IMM didirikan oleh Djazman Al-Kindi bersama Tokoh-tokoh Mahasiswa pada saat itu seperti, Rosyad Shaleh, Amien Rais, Yahya Muhaimin, Ellyda, Sudibyo Markus, dll… Keberadaan IMM justru ikut menolong agar HMI tidak dibubarkan oleh Orde Lama.

Sosok Djazman muda memiliki kedudukan yang istimewa di mata Bung Karno. Sehingga Bung Karno-pun menaruh respek yang besar kepada Djazman. Terlebih setelah Bung Karno mengetahui bibit bebet dan bobot seorang Djazman, yang masih merupakan cucu langsung dari KH. Ahmad Dahlan.

Bagi Bung Karno, nalar kritis Djazman adalah nalar kritis autentik mahasiswa yang semestinya. Ia (mahasiswa) harus merdeka dari kepentingan-kepentingan politik, khususnya kepentingan politik jangka pendek.

Mahasiswa harus memiliki kepentingannya sendiri. Mahasiswa adalah agent of change yang murni berdiri diatas kebenaran.

Mahasiswa tidak boleh hanya berada di menara gading akademik, tetapi melupakan akar sosialnya di tengah masyarakat.

Pak Djazman sering mengingatkan, agar kita selalu berinovasi dalam menggerakkan potensi kader-kader Ikatan.

Kader Ikatan harus mewaspadai atas hilangnya obyektifitas arah gerakan kebangsaan, akibat terpengaruh oleh aktivitas senior organisasi.

Perbedaan inilah yang begitu mendasar melatari adat kebiasaan dan tradisi organisasi, yang hingga hari ini bisa kita amati dari bagaimana hubungan senior-junior beserta orientasi gerakan politik yang menyertainya.

Jika di organisasi-organisasi mahasiswa sebelah, seorang junior akan membela dan mendukung seniornya mati-matian, terutama dalam kancah perpolitikan nasional. Maka, kita tidak akan menemukan junior-junior IMM yang mudah larut dalam arus gerakan politik seniornya.

IMM telah mengarungi sejarahnya sendiri menjadi sebuah organisasi yang selalu kritis, bahkan terhadap internalnya sendiri di Muhammadiyah.

Sehingga, menjadi biasa saja jika kita menemukan seorang junior IMM bahkan berbeda sikap politik dengan seniornya. Hal yang sama sekali tidak ditabukan didalam organisasi ini.

Namun, jangan salah menilai, adanya perbedaan pandangan seperti itu tidak pernah merusak hubungan emosional antara senior-junior Ikatan, untuk kembali pulang mendahulukan hubungan persaudaraan yang tidak terpisahkan oleh kepentingan. Wujud dari pengejawantahan akhlak kader yang selalu menjunjung tinggi elan vital sebuah perjuangan….

Teladan Pak Djazman
Abadi sepanjang zaman……

Ciputat, 10 Ramadhan 1441

Qosdus Sabil, Santri Pengelana kelahiran Lamongan ini telah lama menyepikan dirinya dari dunia jurnalisme. Bekerja sebagai Konsultan berbagai Project Bidang Pertanian, Perikanan dan Kelautan, serta Program-program Pengembangan Kawasan Perdesaan dan Kawasan Perbatasan Republik Indonesia.
Kini, ia aktif menjadi Penasehat PRM Legoso-Ciputat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.