Qosdus Story: Ketika Kang Moeslim Ditelikung Gus Dur

0
641

Oleh : Qosdus Sabil

Moeslim Abdurrahman, lahir di sebuah dusun di jalur Pantura Lamongan. Tidak jauh dari kampung halaman tempat saya dilahirkan, tinggal sepelompatan menyeberangi Sungai Bengawan Solo yang membelah Kabupaten Lamongan.

Wilayah Lamongan di utara Bengawan Solo merupakan kawasan basis utama jamaah Muhammadiyah. Sedangkan, di selatannya merupakan jalur protokol nasional yang banyak ditandai dengan deretan gedung-gedung megah amal usaha Muhammadiyah Kabupaten Lamongan.

Di sisi timurnya terdapat komplek Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) dan Universitas Muhammadiyah Lamongan dengan Masjid Ki Bagus Hadikusumo-nya yang begitu megah dan indah.

Sementara di sisi baratnya, berdiri Rumah Sakit Muhammadiyah Babat yang tidak kalah megah dengan RSML, dan SMA Muhiba yang telah melegenda sebagai Sekolah Swasta terfavorit di Kabupaten Lamongan.

Saya lebih dulu mengenal Prof. Muslan Abdurrahman, saudara Beliau, yang mengajar di UMM.

Bagi kalangan pemikir muda Muhammadiyah, terutama yang kemudian bergabung di Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), sosok Kang Moeslim begitu berjasa bagi mereka.

Sosok-sosok pemikir muda Muhammadiyah  seperti Andar Nubowo, Piet Hizbullah Khaidir, Ahmad Najib Burhani, Hilman Latief, Ahmad Fuad Fanani, Rifma Ghulam Dzaljadd, Zakiyuddin Baidhowi, atau yang lebih junior seperti Pradana Boy… tentu merasakan sentuhan langsung tangan dingin bimbingan Kang Moeslim.

Begitupun para sahabatnya dari berbagai kalangan dan lintas keyakinan. Mereka merasakan duka cita yang begitu mendalam telah kehilangan sosok Moeslim Abdurrahman yang begitu egaliter dan “opo anane”. Bahkan ada cerita lucu ketika Gus Dur mempolitiki Kang muslim, diceritakan sambil tersenyum pada saya,

“Gus, lha tadi kok saya gak jadi dilantik tho? Padahal saya sudah pake jas lengkap lho”
“Wahhhh… lali e Mas. Sorry ya”

Kalimat itu begitu menggelikan. Tidak hanya bagi Kang Muslim, tapi juga menunjukkan selera humor Gus Dur yang luar biasa.

Tadinya Gus Dur sudah menyampaikan dan meminta Kang Muslim bersiap untuk ikut dilantik menjadi salah satu Menteri pada Kabinet Reformasi.

Namun, hingga pembacaan SK selesai nama Kang Muslim tidak kunjung disebut sebagai salah satu Menteri yang akan dilantik. Sementara Kang Muslim sudah tampil gagah dengan stelan jas lengkap dengan dasi merah menyalanya, ikut berdiri diantara deretan para Tokoh Bangsa yang hadir dalam prosesi Pelantikan Kabinet di Istana Negara…

 

Moeslim abdurrahman

Sesaat sebelum wafat di Jakarta, Kang Moeslim memang sudah sempat beberapa kali keluar masuk Rumah Sakit.

Tapi begitulah Kang Moeslim. Beliau selalu saja merasa sehat jika sudah bertemu dengan anak-anak muda yang kritis dan punya nyali.

Tokoh Malari Hariman Siregar, hingga Pengusaha besar Arifin Panigoro begitu terpukul kehilangan seorang sahabat seperti Kang Moeslim. Demi kecintaan dan penghormatannya kepada Kang Moeslim, mereka segera menyiapkan pemakaman mewah dan paling elit di San Diego Hils Karawang Jawa Barat.

Ahmad Najib Wiyadi, yang sekarang beken sebagai “Gothank Wiyadi” seorang Enterpreneur Revolusioner yang banyak tampil menjadi motivator pelatihan bisnis di berbagai kota di Indonesia, pun merasakan sentuhan Kang Moeslim.

Dalam pengakuannya, Wiyadi pernah mengatakan kepada saya tentang betapa ia kehilangan sosok Kang Moeslim. Terlebih, Wiyadi rupanya sempat terlibat cukup intensif bersama Kang Moeslim.

Gunung Kidul menyimpan kisah Wiyadi menemani Kang Moeslim dalam membina anak-anak Muda Muhammadiyah untuk melakukan persiapan Revolusi Sosial dan Transformasi Keislaman.

Hingga, saya-pun sangat berkeyakinan jika Kang Moeslim mungkin akan merasa lebih bahagia jika jasadnya di makamkan di Gunung Kidul di dekat kelompok masyarakat mustadh’afin yang terpinggirkan.

Saya pribadi merasa sangat bersyukur pernah mengenal Kang Moeslim Abdurrahman.

Pernah dalam sebuah kesempatan di sela Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, saya dapat mengantar Kang Muslim untuk barang sejenak istirahat di Hotel Sahid Gubeng.

Sembari menyusuri jalanan kota Surabaya yang panas (saat itu), Kang Muslim bercerita kisah masa mudanya di kampung halamannya di Lamongan.

Ngakak habis saya dibuatnya.

Kisah masa kecil yang penuh keterbatasan, hingga perjalanan sebagian hidupnya yang harus dijalani dengan semangat keras membaja untuk menaklukkan kejamnya Jakarta.
Kesan yang mendalam.

Apalagi hari itu adalah kesempatan pertama saya bisa intim berdua bersama Kang Muslim.

Ada sebuah paradox yang menimpa seorang Moeslim Abdurrahman. Yakni pada saat DPP PAN Kongres di Semarang. Mayoritas aktivis PAN ikut mencurigai Kang Muslim yang berniat ikut dalam bursa calon Ketum PAN menggantikan Amien Rais.

Usut punya usut, rupanya mayoritas aktivis PAN tidak suka Kang Moeslim karena dianggap lebih dekat dengan Gus Dur, ketimbang dengan Pak Amien. Padahal Kang Muslim sudah ikut membesarkan PAN, bahkan sempat dipasang namanya sebagai Caleg di Dapil Jatim 3.
Kongres PAN pun akhirnya dimenangkan oleh Sutrisno Bachir.

Keresahan Kang Muslim pasca Kongres PAN Semarang sempat ditumpahkan di depan kader elit Angkatan Muda Muhammadiyah di ruang meeting PP Muhammadiyah Jakarta.
Di kemudian hari lahirlah Partai Matahari Bangsa (PMB) yang diinisiasi oleh para kader AMM sebagai protes kekecewaan atas sikap PAN yang kurang mengakomodir kader-kader Muhammadiyah di struktur DPP PAN.

Hujan deras baru mereda. Rintik gerimis dan gemuruh suara aliran hulu Sungai Ciliwung cukup memekakkan telinga.

Malam itu, air mata ini meleleh mendengar kabar wafatnya Kang Muslim.
Sontak sesi makan malam di sebuah restoran hotel di Cisarua mendadak terasa hambar.

Beberapa aktivis muda Muhammadiyah yang bersama saya malam itu juga merasakan duka yang mendalam. Endy Sjaiful Alim (Sekjen DPP IMM/Dekan FT Uhamka) yang saat itu tengah bersiap berangkat S3 ke Wuhan-China. Wa Ode Asmawati (Aktivis DPP IMM/PP NA/Anggota Komisi Informasi Provinsi DKI Jakarta), Siar Anggreta Siagian (Sekjen DPP IMM/Wasekjen DPP Nasdem), semuanya larut dalam duka cita yang mendalam.

Nama Moeslim Abdurrahman tentu tidak dapat kita pisahkan dari Teologi Al Maun yang dicetuskannya.

Beliau total ittiba’ tanpa ragu sedikitpun kepada KH. Ahmad Dahlan untuk sepi ing pamrih rame ing gawe dengan Project “Kalibokong” di Gunung Kidul.

Hal yang begitu istimewa terkait posisi Kang Moeslim dalam arus pemikiran Islam membuatnya sejajar dengan pemikiran para Cendekiawan Muslim seperti Cak Nur, ataupun Kuntowijoyo.

Project Kalibokong yang digagas Kang Moeslim, berikut Teologi Al Maun yang diusungnya, menjadikan Kang Moeslim terasa lebih membumi ketimbang pemikiran Cak Nur Cholis Madjid yang terus memicu beragam perdebatan wacana dan aksi dari para followernya.

Kang Moeslim…
Engkau sudah menghidupkan suluh peradaban
Akan kami jaga nyala apinya agar tidak padam
Itulah janji kami kepadamu….

 

Qosdus Sabil

Ciputat, 2 Ramadhan 1441

Editor : Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.