Qosdus Story: Rahasia Kemenangan Nadjikh Atas Susi

0
622
Sebelah kiri, pendekar perikanan yang sesungguhnya, M. Najikh

Oleh: Qosdus Sabil

Nama Pak Nadjikh begitu mempesona. Bagi saya, pokoknya Pak Nadjikh itu Idola banget dehh… Apalagi dengan Kinerja PT. Kelola Mina Laut yang sudah sangat terkenal reputasinya sebagai salah satu Pemain Besar Industri Perikanan di Indonesia.
Tak kurang, Buya Anwar Abbas dalam testimoninya saat Peresmian Pabrik KML Food ke-46 di Kawasan Industri Sentul Bogor, secara khusus mendoakan Pak Nadjikh agar segera masuk dalam ulasan Forbes Magazine sebagai Salah Satu dari Daftar Top Ten Orang Terkaya di Indonesia.

Mas Tris (Sutrisno Bachir) sebagai Ketua KEIN RI, sering memuji tanpa tedeng aling-aling kehebatan dan kecemerlangan bisnis industri perikanan KML di tangan Pak Nadjikh.
Hingga, suatu hari saat saya mendampingi kedua Beliau menerima audiensi dan pengaduan para pelaku usaha perikanan Nasional di Kantor KEIN RI di kawasan Medan Merdeka Barat Jakarta, Mas Tris membocorkan cerita tentang curhat “kemarahan” Susi Pudjiastuti kepada Pak Nadjikh yang dianggap sangat berambisi ingin menggantikan Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

Mas Tris-pun lantas menceritakan kepada forum: “Saya bilang, Mbak Susi salah alamat. Lha wong Pak Jokowi itu sejak awal sebenarnya sudah beberapa kali meminta langsung kesediaan Pak Nadjikh sebagai Menteri KKP. Namun, Pak Nadjikh selalu dengan halus menolaknya. Sehingga, akhirnya Pak Jokowi minta Mbak Susi menjadi Menteri”.
“Saya beritahu begitu, Mbak Susi ini langsung adem. Dia ini (Susi) sudah lama kenal saya, dan sudah langganan menjadi supplier di anak perusahaan perikanan yang saya miliki, bahkan sejak awal mula Susi merintis bisnisnya”, kata Mas Tris.

 

Di depan para pengusaha perikanan nasional itu Mas Tris menyatakan: “hanya orang-orang gila seperti Pak Nadjikh yang bisa eksis. Pak Nadjikh ini diam-diam sudah jadi konglomerat. Ditengah hantaman kebijakan Permen Susi, dimana hampir semua sektor bisnis perikanan terkapar merasakan dampaknya, Pak Nadjikh justru makin gila!! Pabriknya malah bertambah. Bahkan beberapa diantaranya Join langsung dengan Perusahaan Jepang. Ini baru konglomerat beneran. Nggak kayak saya yang hanya bo’ongan. Makanya sekarang diminta ngurus KEIN karena sudah banyak nganggurnya”, ujar Mas Tris diiringi derai tawa getir para hadirin.

 

Sekedar catatan, ada setidaknya 6 Permen MKP Susi yang menimbulkan goncangan ekonomi yang sangat keras terhadap para pelaku usaha perikanan nasional, baik level nelayan & pembudidaya ikan skala kecil, hingga para pemain perikanan tangkap/budidaya skala besar, termasuk di sektor industri pengolahan hasil perikanan yang paling merasakan dampaknya.

 

Sementara, kita semua mengetahui core bisnis Pak Nadjikh ini juga dari hulu ke hilir. Memang ada juga anak usaha KML yang terpukul dan terpaksa ditutup akibat Permen Susi. Terutama industri pengolahan perikanan berbasis surimi.

 

Pak Nadjikh yang didapuk menjadi Anggota KEIN, dipaksa untuk memimpin Pokja Industri Perikanan, Maritim dan Peternakan, sesuatu yang Beliau tidak bisa mengelak lagi untuk menolak Jabatan tersebut.

 

Tetapi, begitu akhirnya menerima untuk mengemban amanah Jabatan tersebut, Pak Nadjikh langsung membentuk Team Tenaga Ahli Profesional untuk memberikan support pemikiran dan analisis atas masukan-masukan dan pertimbangan dari KEIN kepada Presiden.

 

Saya merasa sangat beruntung, telah mendapat kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga, dapat bergabung sebagai salah satu dari 7 Tenaga Ahli Pokja Perikanan, Maritim dan Peternakan KEIN, dan berinteraksi langsung menjadi anak buah Pak Nadjikh.
Banyak hal yang bisa saya pelajari langsung dari Sosok Pak Nadjikh. Karakter leadershipnya begitu kuat. Di samping pandai mengorganisasi jaringan, ternyata Pak Nadjikh ini juga sangat pandai “mendengar”. Sesuatu yang jarang dimiliki orang sukses. Beliau tidak banyak bicara, berdebat, sibuk diskusi dan berwacana, seperti kebanyakan Tokoh politik di negeri ini. Sikap Beliau selaras seia sekata dengan tindak dan perbuatan.
Bulan pertama bekerja sebagai Anggota KEIN, Pak Nadjikh langsung marathon melakukan safari ke lokasi-lokasi sentra perikanan nasional di seluruh Indonesia. Melihat dan mencoba mengurai benang kusut kebijakan Pemerintah dan dampaknya secara langsung terhadap kehidupan nelayan dan pembudidaya ikan.

 

Pak Nadjikh langsung tancap gas menggelar beberapa roundtable meeting bersama para pakar dan tenaga ahli untuk memberikan pertimbangan sebagai bahan masukan KEIN kepada Presiden RI.

 

Hasilnya, lahir Inpres No.7/2016 yang memerintahkan kepada Menteri Susi untuk segera melakukan revisi atas Permen-permen yang menghambat usaha/industri perikanan nasional. Secara khusus Presiden meminta Menteri Susi untuk segera mengakhiri kegaduhan di kalangan stakeholder perikanan nasional.

 

Ironisnya, Susi makin melawan. Sama “gila”nya dengan Pak Nadjikh. Susi sedikitpun tidak mau kompromi merevisi beberapa Peraturan Menteri yang telah dikeluarkannya, betapapun sudah ada Instruksi Presiden.

 

Walaupun sama “gila”-nya, ada hal mendasar yang sangat membedakan sosok Bu Susi dengan Pak Nadjikh.

 

Jika Susi sangat menyukai gemerlap publikasi dan puja puji media, maka sebaliknya kita akan melihat “keanehan” seorang Nadjikh yang justru memilih kerja dalam senyap jauh dari sorot kamera media.

 

Pak Nadjikh selalu tampil cool dan penuh kesantunan. Tidak sedikitpun terpancing untuk ikut-ikutan emosional, bahkan ketika beberapa unit bisnisnya juga terdampak secara tragis oleh kebijakan Susi.

 

Suatu ketika saya dalam sebuah perjalanan menyusuri sentra pembudidayaan Keramba Jaring Apung Kerapu di beberapa pulau di Provinsi Lampung, Pak Nadjikh menelpon saya menanyakan fakta di lapangan yang saya temukan seperti apa?

 

Ketika saya laporkan bahwa betapa hancur dan massifnya dampak kebijakan Susi terhadap kegiatan Budidaya Perikanan Laut, khususnya kerapu yang telah banyak menyumbang devisa bagi negara, di ujung telpon terdengar desah nafas panjang Pak Nadjikh dan suara Beliau hingga bergetar seolah ikut merasakan langsung kesedihan para nelayan dan pembudidaya perikanan yang makin nyungsep nasibnya tanpa ada pembelaan dari negara.
Pak Nadjikh lalu minta disambungkan langsung dengan para pelaku usaha via telpon, menanyakan dan memastikan kira-kira apa yang Beliau bisa lakukan untuk membantu mereka melalui KEIN RI.

 

Pekan berikutnya, Pak Nadjikh langsung bergerak cepat mengajak Dewan Maritim Nasional untuk bersama-sama mendengar paparan para Tenaga Ahli yang telah menyelesaikan investigasi ke lapangan.

 

Totalitas Pak Nadjikh begitu besar mendapat apresiasi yang sangat positif dari berbagai kalangan. Bahkan, tidak sedikit Pejabat Eselon di KKP yang secara informal memberikan banyak “Laporan” terkait internal Rezim KKP dibawah kepemimpinan Susi…

 

Hingga suatu hari, Wapres Jusuf Kalla-pun ikut turun ke lapangan melihat langsung dampak berbagai kebijakan Susi, khususnya terkait Larangan Alat Tangkap Cantrang; Larangan beroperasinya Kapal buatan Asing; tentang Perusahaan campuran/gabungan modal asing dan domestik; Larangan Alih muatan di tengah laut (transhipment); Larangan penggunaan pukat udang untuk kapal khusus penangkap udang, Larangan menangkap Lobster, Rajungan dan Kepiting, hingga permintaan adanya Transparansi Hasil ANEV Satgas 115 untuk pemberantasan illegal fishing. Upaya mediasi JK sebagai Wapres-pun sama sekali tidak dihiraukan oleh Susi.

 

“Perintah” Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan kepada Menteri Susi-pun dianggap angin lalu, hingga Luhut -sang Menteri segala urusan ini- terlihat begitu marah kepada Bu Susi.
Satu-satunya yang dapat dianggap sebagai prestasi Susi hanyalah soal pemberantasan illegal fishing. Selebihnya, nyaris merah semua nilainya.

 

Kegagalan mediasi demi mediasi akhirnya memicu aksi massa nelayan di berbagai kota di pantura Jawa, hingga berlanjut ke Istana.

 

Di tengah gejolak perlawanan nelayan inilah akhirnya saya memilih untuk pamit kepada Pak Nadjikh untuk berjuang dari luar KEIN.

 

Saya kemudian bergabung bersama Team Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta. Sedih dan marah menjadi satu, manakala berbagai Asosiasi Nelayan dan Pembudidaya Ikan dari seluruh Indonesia menumpahkan derita pilu nasib mereka di Kantor PP Muhammadiyah Menteng Raya Jakarta.

 

Tidak banyak yang bisa kami lakukan untuk membantu nelayan. Jalur institusi untuk merubah kebijakan KKP seolah membentur tembok yang kokoh. Padahal sebenarnya tidak sama sekali. Lebih karena sikap bebal Sang Menteri yang tidak mau menerima kritik dan koreksi, bahkan oleh berbagai kalangan Ahli Perikanan dari Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia.

Komisi IV DPR RI bahkan sampai memotong hampir setengah alokasi Anggaran Keuangan Kementerian Kelautan dan Perikanan, akibat beberapa ketidakpatuhan Menteri Susi terhadap kesepakatan dan keputusan Rapat kerja bersama DPR RI. Pemotongan Anggaran tersebut dilakukan DPR RI sekaligus sebagai punishment atas status Laporan BPK yang menyatakan disclaimer atas Laporan Penggunaan Anggaran di Kementerian Kelautan dan Perikanan selama di pimpin oleh Susi….

 

Lama tak bersua, Jumat 17 April 2020 pukul 10.00 pagi semua beranda media memberitakan berpulangnya Pak Nadjikh untuk kembali menghadap ke hadirat Ilahi.
Berkabut mata ini membaca beberapa testimoni para tokoh terhadap Pak Nadjikh. Ada sejumput penyesalan dalam hati, mengapa hanya sebentar saja saya berguru langsung kepada Beliau.

 

Samudera ilmu dan amal Pak Nadjikh teramat istimewa untuk dikenang dan diteladani.
Spontan pikiran dan memori saya kembali melayang, ketika di sebuah sore yang cerah sepulang dari belantara Jakarta, saya menerima telpon dari Pak Nadjikh.

 

Gugup dan grogi saya akan mengangkat telepon istimewa itu. Walaupun saya tidak pernah bertemu muka dengan Pak Nadjikh, tapi saya merasa sangat penting untuk menyimpan no handphone Beliau di HP saya.

Telepon itu datang tidak berselang lama setelah Beliau ditetapkan menjadi Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Telepon yang begitu terasa menggetarkan, melebihi perasaan deg-degan para politisi saat menanti datangnya telpon Presiden jelang penyusunan Kabinet.

 

Sore itu Pak Nadjikh langsung to the point memperkenalkan dirinya seperti orang yang biasa-biasa saja. Mungkin Beliau mengira saya tidak memiliki dan menyimpan No Handphone-nya. Beliau kemudian bertanya beberapa hal kepada saya. Sebagai Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah, Beliau ingin memastikan rekam jejak calon anggota team Majelis yang akan Beliau susun.

 

Apalah arti saya ini, dibandingkan deretan prestasi yang telah Beliau torehkan. Sungguh merupakan kehormatan dan anugerah bagi saya, ketika Tokoh Teri yang Menggurita ini sangat mau mendengar dan tetap humble di depan kadernya sendiri. Bahkan, terhadap saya yang bukan siapa-siapa ini…….

Allahuyarham Muhammad Nadjikh,
Selamat mudik ke Kampung Keabadian.
Kami pasti akan merindukanmu.
Dan menyusulmu kesana.
Titip salam dari kami untuk Junjungan Akhir Zaman.
Allahumma shalli alaa Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam.

Ciputat, 1 Ramadhan 1441

Qosdus Sabil

Penulis adalah Tenaga Ahli Pokja Industri Perikanan, Maritim dan Peternakan Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia, 2016-2017/Penasehat Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso-Ciputat

Editor : Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.