Refleksi 20 Tahun Reformasi Melalui Teks Lagu Buruh Tani (Pembebasan)

0
127

Oknews.co.id – Malang, Demokrasi merupakan suatu konsep yang menganut bahwa kedaulatan tertinggi terletak pada rakyat. Dalam bahasa latin konsep demokrasi diterjemahkan dalam konsep vox populi, vox dei atau lebih dikenal dengan konsep suara rakyat, suara Tuhan. Penerjemahan konsep demokrasi dengan narasi suara rakyat, suara Tuhan mengeaskan bahwa kedaulatan rakyat merupakan hal yang sangat mutlak dalam tatanan Negara demokrasi. Rakyat memiliki kekuatan tersendiri dalam Negara demokrasi, kekuatan tersebut tentunya tidak hanya terletak pada kekuatan dalam rangka memilih pemimpin saja atau dalam bahasa singkat yaitu hak pilih ketika pada proses pemilihan pemimpin. Kekuatan rakyat justru terletak pada pengawalan kebijakan pemerintah terhadap kehidupan sosial dalam berbagai aspek, seperti ekonomi, budaya, politik, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang menganut konsep demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Maka sebuah konsekuensi logis bahwa rakyat Indonesia memiliki kesadaran penuh tentang kondisi sosialnya. Gejolak-gejolak yang muncul dalam struktur sosial menjadi refleksi tersendiri bagi sebagian masyarakat yang sadar akan fungsinya sebagai pengawal kebijakan pemerintah. Adapun struktur yang kemudian dapat dipahami sebagai pemangku kebijakan yakni pemerintah itu sendiri, namun rakyat lupa bahwa rakyat memiliki fungsi selain sebagai objek kebijakan, juga sebagai subjek kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, maka dari itu pentingnya tumbuh rasa kesadaran dalam diri masyarakat secara universal bahwa dirinya memiliki hak unutk mengawal dan mengevaluasi kebijakan yang ada.

Fungsi rakyat sebagai objek dan subjek kebijakan dapat ditransformasikan dalam berbagai cara salah satunya melalui media sastra. Kesadaran rakyat terhadap kebijakan pemerintah biasanya berubah menjadi suatu kritik. Sastra menjadi medium yang dianggap bisa memberikan refleksi tersendiri bagi masyarakat. Refleksi melalui media sastra tentu memiliki ruh tersendiri dengan asumsi akan mampu menyadarkan masyarakat tentang kondisi sosial yang digambarkan dalam sebuah karya sastra. Cerminan masyrakat yang tergambar dalam sebuah karya sastra akan merupakan hasil imajinatif-reflektif seorang penulis terhadap kondisi sosial yang ada kemudian dituangkan dalam proses estetika bahasa untuk menjadi sebuah karya sastra yang mewakili gambaran kondisi sosial tertentu sesuai dengan pengilhaman masing-masing penulis, tentu pengilhaman tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkonstruksi menjadi sebuah kerangka yang menghubungkan antara sastra dan kondisi sosial.

Sastra dan kondisi sosial merupakan hal yang saling berhubungan jika ada kesadaran tersendiri dalam diri seorang pengarang untuk menggerakan sastra sebagai media penyadaran, begitu pula menjadikan kondisi sosial sebagai reflkesi untuk sebuah kajian yang termanifestasikan dalam teks-teks sastra. Kondisi sosial merupakan ruang yang begitu dinamis untuk dijadikan bahan kajian dalam suatu karya sastra. Dinamika sosial akan sangat memengaruhi genre karya sastra yang akan muncul kepermukaan, pada sisi lain sastra juga akan memberi warna tersendiri pada suatu kondisi sosial, sebab sastra akan muncul ke permukaan dengan ciri khasnya sesuai dengan amanat yang dibawanya untuk menjadi sebuah refleksi sosial. Dalam kajian sosiologi sastra disebutkan bahwa teks-teks sastra menjadi sebuah refleksi atau cerminan kondisi sosial pada saat karya sastra diciptakan, kondisi sosial penulis secara pribadi juga akan memengaruhi karya sastra, dan sastra merupakan salah satu gambaran dari sebuah sejarah serta kondisi sosial maupun budaya yang ada di sekitar teks sastra itu sendiri.

Jika ditinjau secara parsial atau terpisah maka sastra memiliki konsep tersendiri yang masih terkait dengan sosiologi sastra adalah konsep resepsi yang menjadi sebuah kajian tentang penerimaan masyarkat tertentu pada sebuah karya sastra tertentu, konsep hegemoni yang menjadi sebuah upaya dominasi dalam struktur sosial melalui wacana sastra, konsep trilogi yang mengaitkan antara pengarang-karya-pembaca, dan konsep refrakasi atau lebih pada kajian refleksi karya sastra pada suatu kondisi sosial. Beberapa konsep merupakan sebagian dari konsep sastra yang memiliki hubungan terhadap sosiolinguistik. Maka dapat dipahami bersama bahwa karya sastra sangat berhubungan erat dengan latar belakang sosial dimana karya sastra itu lahir.

Sosiologi sastra menjadi sebuah kajian yang memiliki dasar dua disiplin ilmu, yaitu ilmu sosial dan sastra. Kedua disiplin ilmu tersebut menjadi satu kesatuan yang saling berpengaruh dalam realitas sosial maupun dalam proses terciptanya teks sastra itu sendiri. Konteks sosial merupakan unsur ekstrinsik yang tidak dapat dipisah dari unsur pembentukan teks sastra. Kajian maupun konteks sosial akan menjadi dasar teks sastra pada sebuah proses imajinasi penulis. Makna yang terbangun dalam sebuah teks sastra akan membentuk opini masyrakat tentang sebuah kondisi sosial.

Salah satu karya sastra yang masih banyak dinikmati oleh kalangan mahasisawa adalah lirik lagu buruh tani. Lagu buruh tani masih sering didengungkan dalam beberapa kegiatan Mahasiwa. Dalam lagu tersebut terdapat semangat tersendiri untuk membangun suatu tatanan masyarakat yang lebih baik. Dalam liriknya lagu tersebut mengambil kata “buruh” dan “tani” sebagai simbol perjuangan rakyat dalam mempertahankan hidupnya. “Buruh” dan “tani” dianggap sebagai simbol perjuangan rakyat yang kemudian diteruskan pada lirik selanjutnya yaitu “mahasiswa”, “rakyat miskin kota”. Kata “mahasiswa” merupakan simbol perjuangan masyarakat intelektual yang mampu mengawal kebijakan pemerintah melalui dinamika intelektual yang didapat pada bangku-bangku kuliah. Kiranya penting mahasiswa menjadi salah satu bagian dari perubahan maupun perbaikan suatu bangsa, karena seyogyannya mahasiswa dipersiapakan untuk menjadi pemimpin masa depan suatu bangsa. Perjuangan mahasiswa sebagai kaum intelektual, diharapkan mampu mewakili suara “rakyat miskin kota” agar tidak terjadi kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial menjadi salah satu masalah di negeri ini yang harus diberantas melalui berbagai upaya, maka mahasiswa dianggap sebagai salah satu golongan yang mampu mewakili perjuangan tersebut.

Alfianur Rizal R.R.A
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.