Refleksi Hari Ibu: Jangan Ditawar Lagi

0
262

Ditulis sebagai kata hati, pencerahan bagi zaman

Sejatinya dalam hidup semua manusia hanya menginginkan   rasa nyaman, tentram  dan  damai . Kabar baik yang membuat rasa itu semua  akan menghasilkan buah bahagia yang merupakan tujuan hidup  bagi setiap insan.  Bahagia ini  dipicu dari dua hal;  faktor  diri sendiri  dan faktor dari luar .

Faktor dari sendiri menunjukkan  tingkang kwalitas diri seseorang  , mulai dari tingkat keimanan  hingga ketaatannya dalam mewujudkan aplikasi keimanannya dalam hidup dan berkehidupan.  Artinya  prilaku hablumminallah  sesuai yang dikehendaki Allah dan hablumminannas  juga tuntas menurut keduanya, yaitu sang Khaliq dan seluruh makhluk.

Persoalannya faktor luar lebih mendominasi dalam mengacak – acak proses kehidupan setiap insan.  Fakta berbicara kasus – kasus   di masyarakat yang tidak pernah habis, terkait kenakalan anak seperti tawuran, bolos masal, terjerat narkoba, miras oplosan  dan masih banyak lagi   adalah  kabar – kabar yang hampir setiap hari memaksa  setiap insan untuk menerimanya. Kenapa memaksa ? karena  sejatinya  semua hanya ingin bahagia dan  kabar – kabar buruk tersebut  sama sekali tidak diharapkan.

Belum lagi  kabar terkait perceraian  yang kabarnya terus meningkat, terlebih  semasa pandemi ini  kabarnya sangat tajam peningkatannya  dan  perekonomian  menjadi pemicunya. Ini menarik sebelum ada pandemi  kabar peningkatan angka perceraian juga marak , hasil survey perselingkuhan menjadi faktor utama.  Dari semua faktor  penyebab  keburukan tersebut adalah prilaku jahat dan buruk .

Pada momentum hari ibu ini,  sangat tepat untuk mengingatkan pada semua insan  terutama   para Ibu  dimana berdasarkan  sabda Rasul   secara kodrati Ibu  ditunjuk sang Khaliq sebagai pendidik  pertama dan utama. Dalam konsep  mendidik anak  para Ibu  seyogyanya mengembalikan pada konsep yang haqiqi  sebagaimana yang disampaikan  sang Khaliq  dengan sangat tegas melalui kisah keluarga Luqman Al Hakim. 7  nasehat  pada anaknya yang harus dipegang ; Pertama , jangan mempersekutukan Allah . Kedua, berbuat baik kepada kedua orangtua.Ketiga, sadar  bahwa  manusia selalu dalam pengawasan Allah SWT. Keempat, mendirikan shalat. Kelima,  berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran . Keenam, sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dan ketujuh janganlah menyombongkan diri , juga mengutip nasehatnya ;

 

“Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal  agar kamu tidak menjadi fakir, sesungguhnya tidak ada satupun orang fakir  itu kecuali mereka mengalami  tiga perkara, yaitu tipis keimanannya  terhadap agamanya , lemah akalnya ( mudah tertipu ) dan hilang kepribadiannya. “

Kasus – kasus diatas  jangan dianggap suatu hal yang biasa ,  anggapan ini akan berakibat tidak akan ada kerja keras  untuk berupaya mengembalikan keadaban manusia yang telah terperosok  dalam keburukan. Nasehat  – nasehat Luqman  dalam alquran merupakan sebuah konstitusi yang kedudukannya lebih tinggi   di atas konstitusi negara, sehingga  harus benar – benar  dipatuhi oleh para orang tua  tidak hanya yang berkitab Al quran saja , namun juga semua  umat beragama   lainnya.

“Menjadi  ibu itu tidak mudah,  bahkan sangat sulit sekali,’  begitu kebanyakan  orang  bilamg. Sejatinya  manusia sendirilah yang membuat semua menjadi sulit. Sang pencipta telah menciptakan manusia lengkap dengan rambu – rambunya , namun yang diciptakan  selalu saja menawar bahkan lebih berani menerjang semua rambu  yang seharusnya dipatuhi.

Momentum yang sangat mulia ini, momentum Hari Ibu ,  saatnya  para Ibu menjadi pelopor  pembaharuan, perlopor pembangunan   dengan   bekerja keras untuk mengembalikan keberadaban semua insan , mematuhi semua Undang Undang  yang langsung dibuat sang khaliq . JANGAN DITAWAR LAGI.

Selamat Hari Ibu

Penulis:  Uzlifah

Editor : Bariyah   

  

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.