Rindu Guru, Rindu Ilmu

0
515

Oleh Asya Hujjah El Imani

Secara awam, guru disebut sebagai seseorang yang menguasai sebuah bidang ilmu pengetahuan dan berkewajiban mentransfer ilmu pengetahuan tersebut. Seorang guru adalah sesosok dengan kepribadian yang lembut, angun, santun, sopan, dan jujur (dan mungkin masih banyak lagi sifat baik lainnya). Guru, dalam pandangan Freire, tidak hanya menjadi tenaga pengajar yang memberi instruksi kepada anak didik, tetapi mereka harus memerankan dirinya sebagai pekerja budaya (cultural workers). Guru harus mempunyai kesadaran penuh bahwasanya pendidikan itu mempunyai dua kekuatan sekaligus, yakni sebagai aksi kultural untuk pembebasan atau sebagai aksi kultural untuk dominasi dan hegemoni dan sebagai medium untuk memproduksi sistem sosial yang baru atau sebagai medium untuk mereproduksi status quo.

 

Sumber daya pendidik, guru, menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan. Di Indonesia, guru seakan-akan menjadi satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik. Melihat kebutuhan semacam itu, guru harus menjadi sesosok yang mumpuni dalam menjalankan segala fungsinya. Guru tidak saja berijazah S1 ataupun D2 atau S2. Peserta didik tidak membutuhkan selembar kertas yang menyatakan guru mereka telah lulusan dari pendidikan sarjana ataupun lainnya. Guru harus melaksanakan pendidikan yang sempurna melalui pengajaran-pengajaran yang telah direncanakan. Bagaimana pendidikan yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang guru melalui sebuah pemembelajaran?

 

Menurut pengertian Yunani pendidikan adalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan untuk merealisasikan potensi anak. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

 

Berdasar pada istilah tersebut, guru dalam mengajar di dalam maupun di lura kelas harus memegang teguh konsep dasar dari pendidikan tesebut karena mengajar adalah manifes nyata dari pendidikan. Guru secara profesional melaksanakan kegiatan pengajaran. Guru harus menciptakan sebuah suasana pembelajaran yang mampu membawa peserta didik mereka menjadi pribadi yang optimal dan bukan memberikan pembelajaran yang membelenggu yang hanya transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik.

 

Kenyataan bahwa masih banyak guru di Indonesia yang tidak memiliki dasar yang kuat akan konsep dasar dari pendidikan sehingga pola mengajar dari guru-guru tersebut terkesan hanya asal-asalan tidak dapat dipungkiri lagi. Guru hanya mengejar setoran nilai ke kepala sekolah dan dinas. Hal tersebut disebabkan karena paradigma yang salah di masyarakat Indonesia yakni keberhasilan peserta didik hanya dilihat hanya dari potensi akademik. Kondisi tersebut membawa keadaan dimana guru hanya menerapkan pembelajaran searah, pembelajaran yang memberlakukan guru sebagai subjek dan peserta didik sebagai objek. Interaksi dalam proses pembelajaran adalah interaksi atasan dan bawahan.

 

Tidak sedikit guru di Indonesia hanya peduli untuk memasukkan pengetahuan ke peserta didik dengan alasan mengejar nilai semata. Dengan pembelajaran yang monoton yakni ceramah dilanjutkan mencatat kemudian drill soal dan akhirnya latihan-latihan soal mendorong peserta didik menjadi sesosok yang pandai menghapal sesaat.

Banyak permasalahan yang menjadikan sesosok guru menjadi mesin nilai bagi sekolah, dinas, dan negara. Guru di Idonesia tidak menjadikan pekerjaan guru sebagai sebuah profesi yang dengan penuh iklas dijalani segala resiko dan kendalanya.

 

Mereka memilih profesi guru sebagai sebuah profesi yang aman dan nyaman. Kebanyakan guru di Indonesia lebih “playing save”. Dengan menjadi guru, mereka akan dapat tunjangan hari tua (pensiun). Dengan menjadi guru, mereka dapat melakukan pekerjaan lain karena waktu mengajar sedikit. Alasan-alasan tersebut menjadi dasar mengapa profesionalisme guru kadangkala dan bahkan jarang ada dalam diri seorang guru. Setelah keluar dari lingkup sekolah, guru tidak lagi berfikir bagimana perkembangan peserta didik mereka? Pendidikan hanya berhenti di dalam sekolah dan bahkan kelas.

 

Berangkat dari paradigma yang salah mengenai nilai, guru hanya menyampaikan, tidak ada proses dialog dalam pembelajaran. Sering kali, terjadi pembunuhan karakter terlebih pada pengajaran di tingkat dasar. Kurangnya pemahaman akan hakikat anak menjadikan sebagian guru di Indonesia membelenggu peserta didik untuk dapat mengembangkan segala potensi yang ada. Guru tidak memiliki kesadaran bahwa semua anak yang terlahir di dunia memiliki karakteristik yang berbeda sekalipun kembar siam. Hasilnya adalah pembelajaran yang menyeragamkan tanpa kecuali. Peserta didik lebih diarahkan untuk memenuhi sejumlah target kurikulum.

 

Sebagiamana Freire menyatakan di dalam buku L’educazione come practica della libeazione (1969), dia menawarkan model pendidikan yang lebih dialogal, yaitu guru dan murid saling mendidik. Keduanya tidak terpaku pada buku teks, yang sudah disusun begitu tematis mengikuti kurikulum.Sebaliknya, mereka lebih diarahkan untuk mengembangkan daya nalar dan rasa serta kemampuan kreatif karsa dalam situasi apapun. Sudah saatnya, guru-guru di Indonesia memegang prinsip-prinsip tersebut. Guru juga tidak hanya harus menguasai satu atau beberapa disiplin keilmuan yang harus dapat diajarkannya, ia harus juga mendapat pendidikan kebudayaan yang mendasar untuk aspek manusiawinya. Pendidikan kebudayaan mengajarkan bagaiman menghubungkan pengetahuan dengan lingkungan sekitar.

 

Guru Indoensia sebagian besar tidak memiliki visi yang jelas akan dibawa kemana peserta didik mereka. Visi guru telah dibuyarkan dengan nilai ekonomis dan prestise untuk mencapai hegomoni sesaat karena telah membawa peserta didiknya meraih nilai tertinggi. Bagaimana mungkin membentuk karakter peserta didik jika karakter sang guru pun tidak kuat? Guru tidak memiliki visi yang jelas kemana peserta didik meraka akan dibawa.

 

Satu prinsip penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan dalam proses ini dengan memberikan kesempatan siswa untuk menentukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar siswa menjadi sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa, anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri harus memanjat anak tangga tersebut.

 

Pada dasarnya pendidikan yang membebaskan adalah situasi dimana guru dan siswa sama-sama memiliki perbedaan. Kenyataan yang ada di Indonesia, guru tidak memandang adanya perbedaan diantara paeserta didik.

 

Seorang guru harus memiliki konsep yang kuat akan tujuan pendidikan sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru tersebut selalu melihat apakah mereka on the right track. Setiap saat, mereka harus senantiasa melakukan self evaluation terhadap setiap langkah dalam pembelajaran yang mereka jalankan. Karakter guru yang kuat harus terbangun terlebih dahulu sebelum seseorang memasuki dunia guru. Dengan demikian, dalam menjalankan tugas, beliau akan selalu melihat landasan ontologi memasuki dunia pendidikan. Tidak ada lagi sifat menyalahkan peserta didik ketika terjadi kegagalan output pendidikan namun evaluasi diri lebih menjadi dasar untuk menuju perbaikan.

 

Pertanyaan yang (seharusnya) selalu hadir dalam seorang diri guru adalah akan dibawa kemana peserta didik ini? Bagaimana membawanya? Kedua pertanyaan itu menjadi dasar seorang guru untuk melangkah dalam proses pembelajaran.

Bagaimana membawanya? Pertanyaan tersebut terkait dengan metode yang akan dipakai dalam proses pembelajaran. Bagaimana seorang guru menerapkan pembelajaran yang akan membentuk peserta didik pada pribadi yang optimal? Guru harus memiliki teknik-teknik penyampaian pengetahuan yang tidak membelenggu. Tidak hanya itu, guru harus juga memiliki metode-metode dalam memperlakukan peserta didik secara berbeda mengingat peserta didik adalah pribadi yang berbeda sehingga setiap pribadi dipertajam pisau analisisnya, diasah nuraninya, dan dikuatkan kehendaknya, agar dalam konteks apapun mereka sanggup mengambil keputusan yang tepat. Namun, seseorang yang menguasai ilmu pengetahuan dengan baik dapat menjadi guru yang baik, oleh karena biar bagaimanapun mengajar adalah seni. Tetapi sebaliknya biar bagaimanapun mahirnya orang menguasai seni mengajar (art of teaching), selama ia tidak punya sesuatu yang akan diajarkannya tentu ia tidak akan pantas dianggap menjadi guru. Pandemi ini membawa kerinduan tersendiri pada sosok guru kita

 

Editor : Baba barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.