Saad Ibrahim: Memulai Revolusi, Dengan Dakwah Digital

0
316

Oknews.co.id – Malang, Era telah berubah. Zaman terus bergerak. Model masyarakat mencari informasi juga telah berganti. Jika dulu masyarakat rela berhari-hari berjalan kaki menuju tempat pengajian dan yang diisi oleh ustadz kondang, kini mereka tidak perlu repot dan capek.

Cukup menggunakan handphone, seseorang akan mendapatkan model pengajian yang diinginkan. Kecanggihan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh wawasan, termasuk pemahaman bidang agama. Banyak website yang menyajikan berita tentang keislaman dan bahkan menyediakan forum Tanya jawab agama.

Namun, seiring dengan kemudahan itu muncul berbagai masalah. Salah satunya adalah persoalan pendangkalan dan radikalisme agama. Kasus yang banyak menjadi topik penelitian misalnya, banyak teroris mendapatkan pemahaman mengenai agama dan tindak kejahatan melalui internet.

Oleh karena itu, dakwah humanis perlu masuk ke wilayah digital. Dakwah tidak cukup dengan mengembangkan kajian di masjid. Namun, perlu masuk dan memberi warna sekaligus memengaruhi perilaku masyarakat. Dakwah digital menjadi tantangan sekaligus peluang. Artinya, model dakwah ini perlu membaca dan memahami kecenderungan keberagamaan generasi. Pasalnya, setiap generasi memiliki corak keberagamaan yang unik. Kyai Haji Sa’ad Ibrahim, Ketua PWM Jawa Timur dalam sambutan Syawal Expo Halal bi halal Muhammadiyah Kota Malang (14/7/2019) menyatakan

” Muhammadiyah harus melek dengan teknologi yang dimana memang perkembangan yang sangat pesat seperti contohnya dalam Milenial 4.0. Kiyai Sa’ad juga membahas bahwa Negara Jepang sudah melek sekali dengan perkembangan teknologi dan Milenial 4.0 sudah ada sedikit solusi yaitu Publik Society 4.0 yang memang manusia saat ini lebih bergantung pada teknologi”

Bahasan tersebut bisa kita lihat realitas saat ini orang lebih panik ketika Handphone ketinggalan dari pada ketinggalan sama suami / istrinya. Padahal HP itu artinya cuma handphone tetapi sudah beralih menjadi smartphone yang membuat orang bergantung pada handphone.

Yang menjadi akhir warga Muhammadiyah harus pintar dalam memanage waktu dan memanfaatkan Teknologi 4.0 untuk dakwah dan kebaikan.

Generasi milenial yang lekat dengan internet tentu berbeda dengan zaman generasi X dan Y. Model keberagamaan yang berbeda membutuhkan alat dakwah yang berbeda. Dakwah model lama dengan bertemu dalam lingkungan terbatas akan tergeser oleh model dakwah digital.

Saad mengatakan, “Dakwah digital yaitu model pengajaran Islam melalui media. Model dakwah ini dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Hal itu sesuai dengan karakteristik masyarakat milenial yang sangat akrab dengan gawai (gadget). Mereka mengakses internet hampir setiap saat”

Lebih dari lima jam sehari mereka mengakses situs-situs dan menggunakan media sosial berjejaring (grup media sosial). Medsos kini pun menjadi rujukan utama masyarakat milenial. Mereka mencari jawaban-jawaban persoalan hidup dan keagamaan dari situs dan media sosial yang ramai dibanjiri kajiankajian keagamaan.

Pencarian melalui media sosial seringkali kering dalam spiritual. Pasalnya, media sosial seringkali “mengecilkan” peran keagamaan. Simplifikasi itu yang kemudian menjadikan masyarakat mudah terprovokasi. Mudahnya masyarakat mendapat jawaban singkat dan seringkali tidak kuat basis “dalil”-nya menjadikan mereka mudah terserang virus hoaks. Hoaks keagamaan pun seakan menjadi keniscayaan di tengah masyarakat yang kering spiritualitas saat ini.

Muhammadiyah
Menilik tantangan di atas, bagaimana organisasi sosial keagamaan harus bersikap? Dakwah pencerahan era digital perlu mendapat tempat bagi ormas Islam saat ini. Dakwah perlu diubah menuju pada “keadaban” milenial. Dakwah membutuhkan data dan piranti digital yang terus menerus dan menyeruak di tengah belantara hoaks. Data dan piranti itu membutuhkan orang-orang kreatif yang mau dan mampu menangkap gelaja zaman digital.

Oleh karena itu, ormas Islam membutuhkan pusat-pusat data (big data) dan pusat dakwah digital. Dua hal itu menjadi senjata ormas dalam mengembangkan dakwah di era digital. Dua hal itu akan menjadi pusat keunggulan ormas. Pusat keunggulan perlu dibangun oleh ormas di tengah semakin pragmatisnya umat dalam hal beragama. Ormas Islam seperti Muhammadiyah, misalnya, dapat membangun pusat keunggulan itu.

Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir beberapa kali menyerukan kepada kader Persyarikatan untuk membangun pusat-pusat keunggulan. Muhammadiyah di abad kedua perlu mempunyai big data yang dapat menjadi tempat persemaian data warga Muhammadiyah.

Tidak hanya itu, big data Muhammadiyah akan memudahkan peta dakwah Persyarikatan di tengah banjir informasi. Saat Muhammadiyah telah kuat dalam data, maka pusat dakwah digital bukanlah sesuatu yang sulit. Pusat dakwah digital menjadi sarana menggusur hoaks dengan cara melawan melalui keadaban.

Pusat dakwah digital merupakan lompatan sejarah yang akan menjadi jawaban kegersangan umat saat ini. Pusat dakwah digital juga akan menjadi semacam “bolduser” kesadaran instan menuju kesadaran kritis. Muhammadiyah dapat membangun itu, karena ia memiliki universitasuniversitas yang relatif mapan. Konsorsium universitas Muhammadiyah akan mampu mewujudkan cita-cita itu.

Melalui pusat dakwah digital Muhammadiyah akan terus menjadi pemimpin peradaban mewujudkan masyarakat utama. Muhammadiyah pun akan terus memelopori gerakan tajdid (pembaruan) dan pencerahan. Muhammadiyah akan menyelamatkan generasi milenial dari serbuan pemahaman semu.

Pemahaman semu yang mengikis nalar kritis dan mendorong seseorang pada truth claim. Truth claim itu pun dapat menjadikan seseorang jauh dari nilai keadaban. Mereka menarik diri dari lingkungan masyarakat yang sehat dan menuju pada pergumulan pemikiran (aksi) yang melanggar aturan umum.

Pada akhirnya, dakwah era digital perlu menjadi agenda dan tindakan keumatan Muhammadiyah yang berulang tahun ke-106 pada 18 November 2018 lalu. Pasalnya, konten radikal telah menyusup dan menjadi “pilihan” sebagian kecil umat. Mereka adalah korban ketidakmengertian ajaran agama.

Mereka perlu diselamatkan. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak konten inklusif di lini massa. Muhammadiyah sebagai organisasi modern mempunyai tanggung jawab untuk membangun dan mengembangkan dakwah digital ini. Inilah tantangan dan peluang bagi Muhammadiyah  kedepan. ( Raisul Haq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.