Sucipto

oknews.co.id, Malang-Kabupaten Malang merupakan barometer konservasi dan pegiat alam akhir-akhir ini manjadi sorotan dengan isu yang bergulir dengan penurunan status cagar alam yang dimiliki oleh pulau sempu. Jurusan Biologi Universitas Brawijaya yang juga mengawal kegiatan konservasi yang ada di Pulau Sempu mengadakan kegiatan diskusi yang diikuti berbagai elemen akademisi mulai dari mahasiswa, dosen, dan pemerintah yang ada di Kawasan Malang Raya(15/9/2017). Pulau Sempu yang terletak di selatan Pulau Jawa, Desa Sendang Biru Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang sejak tahun 1990 sudah pernah diisukan untuk diturun statusnya dari cagar alam menjadi kawasan wisata alam, dan akhir-akhir ini mulai diisukan kembali. Sucipto, S.Pd., M.Sc. sebagai salah seorang ahli pariwisata yang juga menghadiri acara tersebut mengutarakan perlu adanya pengumpulan stakeholder yang terkait dengan Pulau Sempu untuk menyelesaikan permasalah tersebut, masyarakat di sekitar Kawasan Sempu dapat dibina untuk dapat mengelola kawasan tersebut sehingga keberadaan Sempu disamping membantu pendapatan masyarakat juga diperoleh pemasukan untuk kegiatan konservasi yang ada di dalamnya, pengelolaan yang ada di dalam kawasan tersebut hanya ada satu pintu sehingga tidak terdapat kebocoran kegiatan yang merusak alam yang ada di sana. Pria alumni Universitas Gajah Mada yang juga menjadi dosen Pariwisata Vokasi Universitas Brawijaya itu menambahkan pariwisata bukanlah kegiatan yang merusak alam akan tetapi oknum yang menyalahgunakan kegiatan pariwisatalah pelaku kerusakan alam yang ada di dalamnya. Perlu adanya Community Based Ecotourism (CBET) yaitu pengelolaan konservasi yang sepenuhnya dilakukan masyarakat dan masyarakat wajib mengawasinya sebagai social buffer zone.

Di sisi lain, Andi salah satu penggiat kegiatan konservasi yang ada di Kawasan Sempu yang juga hadir dalam kegiatan tersebut mengutarakan Sempu sebagai Cagar Alam adalah harga mati, karena menurutnya carrying capacity sebagai pembatas jumlah pengunjung untuk menjaga kondisi alam yang digemborkan adalah omong kosong belaka, karena hingga saat ini belum ada kegiatan di daerah Jawa Timur yang sukses melakukan carrying capacity, dan hal tersebut hanya menjadi peraturan yang terpampang dan tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya.

Pulau Sempu sebagai kawasan konservasi wajib hukumnya bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjaganya. Pengelolaan konservasi memerlukan cost yang tidak sedikit, kegiatan ekowisata yang menerapkan basis-basis konservasi dapat menjadi solusi untuk kegiatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di kawasan tersebut apabila masyarakat sebagai social buffer zone benar-benar mengawasi dan mampu menjalankan tugasnya sebagai pengelola sekaligus pengawas kawasan. (Assa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.