Setumpuk Catatan Hari Pendidikan Nasional

0
185

Oleh: Nugraha hadi Kusuma

Permasalahan pendidikan di Indonesia masa kini sesungguhnya sangat kompleks. tulisan ini dengan segala keterbatasannya, hanya sempat menyoroti beberapa diantaranya yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu permasalahan eksternal dan internal. Dalam permasalahan eksternal di bahas masalah globalisasi dan masalah perubahan social sebagai lingkungan pendidikan.

Sedangkan menyangkut permasalahan internal disoroti masalah system kelemahan (dialisme dikotomi), profesionalisme guru, dan strategi pembelajaran. Dari pemahaman terhadap sejumlah permasalahan dimaksud di atas dapat disimpulkan bahwa berbagai permasalahan pendidikan yang komplek itu, baik eksternal maupun internal adalah saling terkait.

Hal ini tentu saja menyarankan bahwa pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial; yang merupakan pendekatan terpadu. Bagaimanapun, permasalahan-permasalahan di atas yang belum merupakan daftar lengkap, harus kita hadapi dengan penuh tanggung jawab. Sebab, jika kita gagal menemukan solusinya maka kita tidak bisa berharap pendidikan nasional akan mampu bersaing secara terhormat di era globalisasi dewasa ini.

Sebagai insan yang berpendidikan, kita tentu masih terus berharap akan datangnya perubahan fundamental terhadap sistem pendidikan kita. rasa optimis menatap masa depan wajib terbersit di lubuk hati kita semua, meskipun banyak sekali problem yang belum terentaskan. Rasa optimis menjadi “kata kunci” (key word) bagi semua idealisme perubahan itu. Seperti Paulo freire yang telah berhasil memerdekakan rakyat Brazil dari buta huruf, keterbelakangan, dan kemiskinan. Kita tidak bisa membayangkan, betapa besar rasa optimis seorang Freire sewaktu berjuang dengan sekuat tenaga dan pikirannya untuk membebaskan rakyat Brazil dari buta huruf, keterbelakangan, dan kemiskinan itu.

Meskipun banyak problem yang dihadapi oleh pendidikan nasional, namun itu semua tidak boleh menyurutkan semangat kita. Bagaimanapun juga, pendidikan nasional merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Sebab, melalui pendidikan nasional, masa depan bangsa sedang dirancang sebaik mungkin dengan cara mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang tidak kalah kualitasnya dengan negara-negara lain. Kita perlu mengingat kembali kata Cicero, “Pekerjaan apakah yang lebih mulia, atau yang lebih bernilai bagi negara, daripada mengajar generasi yang sedang tumbuh?”.

Dengan demikian, sebagai seorang yang berada di dunia pendidikan kita tidak perlulah merasa putus asa. Ini seperti yang dikatakan oleh Suyanto (2006: ), Sitem pendidikan nasional sedang beranjak menuju perubahan. Akan tetapi, perubahan itu jelas tidak bisa dalam sekali waktu yang langsung memperlihatkan hasil secara maksimal. Sebab, mengelola sistem pendidikan nasional ibarat menanam modal (investasi) untuk jangka panjang. Tetapi wujud keberhasilannya tidak seketika. Jika investasi dalam bentuk bisnis jelas akan menghasilkan untung-rugi secara riil, karena dapat diukur dengan besarnya nominal rupiah. Namun investasi pendidikan adalah berbentuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang riil bagi generasi bangsa. Karena tujuan nasional pendidikan kita adalah untuk membangun mentalitas yang berkarakter.

Memahami Pendidikan Indonesia, Memahami Guru

Kita sebagai manusia diciptakan oleh Tuhan dengan kemampuan yang berbeda-beda dan tingkat atau kemampuan dalam menyerap ilmu yang berbeda-beda juga. Namun di Indonesia semua siswa disamaratakan kemampuannya dengan kurikulum yang ada di Indonesia ini. Semua siswa diajari dan harus bisa pelajaran eksak, padahal tidak semua siswa suka dengan pelajaran eksak. Ada siswa yang suka musik, olahraga, seni dll. Kurikulum yang ada saat ini mengharuskan siswa bisa pelajaran eksak padahal disaat lulus nanti hanya 5% dari pelajaran di Indonesia yang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Tidak mungkin saat kita membeli pentol di jalanan menggunakan rumus matematika. Jika kita bandingkan dengan negara lain, kurikulum di Indonesia ini sangat memberatkan siswanya. Keadaan ini merupakan fakta miris pendidikan di Indonesia yang harus segera mendapat perhatian dari Pemerintah Indonesia. Di negara lain, pendidikannya lebih mengutamakan pendidikan moral dan etika sehingga menghasilkan generasi yang memiliki karakter kuat.

Semangat pendidikan yang membebaskan kaum tertindas tentunya memang diperlukan di negara dunia ketiga seperti Indonesia dimana ketimpangan sosial ekonomi dan pendidikan masih sangat tinggi, namun tentunya akan ada penyesuaian bagaimana konsep tersebut akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Pada kenyataannya, pemikiran mengenai pendidikan yang membebaskan juga telah jauh dikumandangakan banyak pemikir-pemikir Indonesia yang melihat kondisi masyarakat Indonesia khususnya pada masa perjuangan kemerdekaan, seperti pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara & Tan Malaka, pada masa kekinian pun dimana ketimpangan masih terjadi pendidikan-pendidikan alternatif juga bermunculan untuk membebaskan pendidikan dari belenggu penindasan.

Dunia pendidikan global sekarang ini telah mengalami proses komodifikasi. Artinya, pendidikan menjadi barang dagangan dengan tujuan utama mencari dan mengembangkan keuntungan ekonomis. Segala tujuan lain disingkirkan, demi tujuan tersebut. Pedagogi kritis tentu ingin menanggapi kecenderungan yang merugikan pendidikan ini. Kecenderungan komodifikasi pun tidak hanya terjadi di pendidikan, tetapi di seluruh bidang kehidupan. Kebudayaan, sebagai ekspresi kehidupan dan peradaban tinggi, kini dilihat semata sebagai barang yang bisa diperjualbelikan, guna mencapai keuntungan ekonomis.

Pada titik ini, sekolah dan sistem pendidikan secara umum menjadi semacam penjara bagi guru dan murid. Mereka tidak dapat terlibat di dalam menentukan kebijakan pendidikan yang paling tepat untuk perkembangan peserta didik. Pekerjaan mereka diisi dengan administrasi dan birokrasi yang tidak ada hubungan langsung dengan dunia pendidikan sebagai keseluruhan. Fokus mereka pun hanya membentuk manusia-manusia patuh yang pandai menyelesaikan tes dan tugas, seperti robot-robot yang tak berpikir. Pendidikan pun disempitkan semata untuk memenuhi kepentingan bisnis dan industri, serta mengabaikan tujuan-tujuan pendidikan lainnya yang lebih dalam dan lebih luas. Tugas menghafal dihargai lebih tinggi dari pada analisis dengan menggunakan pemikiran kritis. Kepatuhan dihargai lebih tinggi dari pada kreativitas. Kompetisi untuk menjatuhkan lawan dihargai lebih tinggi, daripada kerja sama yag berpijak pada solidaritas. Lalu bagaimana gambaran potret di Indonesia sekarang ini???Apakah kita selaku pendidik telah menjerumuskan pendidikan ini atau sebaliknya. Mari bersama kita bercermin, selaku pendidik sudah memberikan pendidikan yang seharusnya diterima oleh siswa kita atau belum.

Ada lima catatan yang kiranya bisa diberikan kepada pemikiran Giroux, terutama dalam konteks Indonesia.

Satu, sama seperti analisis Giroux, Indonesia pun mengalami tersebarnya pedagogi neoliberal di dalam pendidikan. Pendidikan pun disempitkan menjadi semata pengajaran kemampuan-kemampuan untuk menang di dalam kompetisi bisnis. Nilai-nilai luhur pendidikan, seperti kemanusiaan, sikap kritis, kepekaan moral, keterlibatan sosial dan demokrasi, pun terpinggirkan. Di dalam alam pikir neoliberalisme, uang dan ekonomi menjadi satu-satunya ukuran bagi semua bidang kehidupan manusia.

 

Dua, di Indonesia, pendidikan juga dijajah oleh formalisme agama, yakni pemahaman agama yang terjebak pada ritual dan aturan-aturan buta, tanpa pemahaman akan inti dari agama tersebut. Pendidikan formalistik religius semacam ini jelas bertentangan dengan cita-cita bangsa Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sekaligus mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Yang tercipta justru sebaliknya, yakni manusia-manusia yang berpikir tertutup, ketinggalan perubahan jaman, fanatik dan cenderung intoleran di dalam banyak hal. Jika tidak ditanggapi secara kritis, pola pendidikan semacam ini justru menghancurkan mental dan pola pikir para peserta didik.

 

Tiga, menyebarnya paham fundamentalism agama dan fundamentalisme ekonomi di dalam pendidikan membuat dunia pendidikan di Indonesia kehilangan nilai-nilai luhurnya. Peserta didik dibentuk menjadi orang yang patuh buta terhadap kekuasaan. Ia cerdas dan kreatif di dalam mematuhi perintah yang diberikan oleh para penguasa politik dan pemilik modal. Ia pun hanya peduli pada penumpukan kekayaan semata, dan menjadi tidak peduli terhadap beragam permasalahan sosial yang mengancam keutuhan hidupbersama. Dengan kata lain, pendidikan telah kehilangan roh sejatinya, dan menjadi semata pengajaran kepatuhan buta terhadap penguasa (Nida-Rümelin, 2013).

Empat, melihat keadaan Indonesia sekarang ini, pemikiran Giroux tentang pedagogi kritis jelas amat dibutuhkan. Pedagogi kritis adalah paradigma pendidikan sekaligus kehidupan yang menekankan sikap kritis terhadap hubungan-hubungan kekuasaan yang membentuk masyarakat. Sikap kritis ini dibarengi dengan wawasan luas serta kepekaan moral yang menuntut pada tindakan nyata yang membawa perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Baik dalam arti ini adalah kebaikan bersama, dimana setiap orang bisa hidup secara bebas dalam kemakmuran dan keadilan bersama. Pedagogi kritis bergerak melampaui pedagogi tradisional yang bersifat netral dan menuntut kepatuhan buta terhadap penguasa politik maupun ekonomi yang sudah ada.

 

Lima, pedagogi kritis juga bisa berperan besar di dalam pengembangan demokrasi di Indonesia. Masyarakat demokratis membutuhkan warga yang mampu berpikir kritis dan rasional, guna menyingkapi berbagai persoalan yang muncul di dalam hidup bersama. Demokrasi mengandaikan warga negara yang cukup mampu membuat keputusan dan mengolah informasi secara kritis dan rasional. Ini lalu dibalut dengan kepekaan moral, wawasan yang luas serta keberanian untuk terlibat di dalam perubahan sosial. Tanpa ini semua, demokrasi di Indonesia tidak akan berjalan, dan akan terjebak pada berbagai bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme, seperti yang banyak disaksikan sekarang ini.

Giroux menawarkan perubahan paradigma di dalam konteks pendidikan dari pedagogi tradisional yang bersifat netral dan universal menuju pedagogi kritis yang bersifat kritis dan kontekstual. Pedagogi tradisional cenderung berpihak pada penguasa politik dan ekonomi yang ada. Sementara, pedagogi kritis memetaka hubungan-hubungan kekuasaan yang ada, sehingga bisa mendorong terjadinya perubahan sosial ke arah masyarakat yang lebih terbuka, bebas dan adil. Tidak berhenti disitu, pedagogi kritis juga mengembangkan wawasan dan kepekaan moral di dalam memahami keadaan sosial. Ini semua menjadi bekal bagi keterlibatan sosial peserta didik di dalam proses perubahan sosial. Kritik utama pedagogi kritis, menurut Giroux, adalah pola pikir neoliberalis yang menempatkan ekonomi sebagai ukuran bagi segala sesuatu di dalam hidup. Dengan melihat keadaan Indonesia, serta beberapa ide dasar dari pedagogi kritis, maka dapatlah disimpulkan, bahwa pedagogi kritis amat cocok diterapkan di Indonesia.

Secara awam, guru disebut sebagai seseorang yang menguasai sebuah bidang ilmu pengetahuan dan berkewajiban mentransfer ilmu pengetahuan tersebut. Seorang guru adalah sesosok dengan kepribadian yang lembut, angun, santun, sopan, dan jujur (dan mungkin masih banyak lagi sifat baik lainnya). Guru, dalam pandangan Freire, tidak hanya menjadi tenaga pengajar yang memberi instruksi kepada anak didik, tetapi mereka harus memerankan dirinya sebagai pekerja budaya (cultural workers). Guru harus mempunyai kesadaran penuh bahwasanya pendidikan itu mempunyai dua kekuatan sekaligus, yakni sebagai aksi kultural untuk pembebasan atau sebagai aksi kultural untuk dominasi dan hegemoni dan sebagai medium untuk memproduksi sistem sosial yang baru atau sebagai medium untuk mereproduksi status quo.

Sumber daya pendidik, guru, menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan. Di Indonesia, guru seakan-akan menjadi satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik. Melihat kebutuhan semacam itu, guru harus menjadi sesosok yang mumpuni dalam menjalankan segala fungsinya. Guru tidak saja berijazah S1 ataupun D2 atau S2. Peserta didik tidak membutuhkan selembar kertas yang menyatakan guru mereka telah lulusan dari pendidikan sarjana ataupun lainnya. Guru harus melaksanakan pendidikan yang sempurna melalui pengajaran-pengajaran yang telah direncanakan. Bagaimana pendidikan yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang guru melalui sebuah pembelajaran?

Menurut pengertian Yunani pendidikan adalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan untuk merealisasikan potensi anak. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Berdasar pada istilah tersebut, guru dalam mengajar di dalam maupun di lura kelas harus memegang teguh konsep dasar dari pendidikan tesebut karena mengajar adalah manifes nyata dari pendidikan. Guru secara profesional melaksanakan kegiatan pengajaran. Guru harus menciptakan sebuah suasana pembelajaran yang mampu membawa peserta didik mereka menjadi pribadi yang optimal dan bukan memberikan pembelajaran yang membelenggu yang hanya transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik.

Kenyataan bahwa masih banyak guru di Indonesia yang tidak memiliki dasar yang kuat akan konsep dasar dari pendidikan sehingga pola mengajar dari guru-guru tersebut terkesan hanya asal-asalan tidak dapat dipungkiri lagi. Guru hanya mengejar setoran nilai ke kepala sekolah dan dinas. Hal tersebut disebabkan karena paradigma yang salah di masyarakat Indonesia yakni keberhasilan peserta didik hanya dilihat hanya dari potensi akademik. Kondisi tersebut membawa keadaan dimana guru hanya menerapkan pembelajaran searah, pembelajaran yang memberlakukan guru sebagai subjek dan peserta didik sebagai objek. Interaksi dalam proses pembelajaran adalah interaksi atasan dan bawahan.

Tidak sedikit guru di Indonesia hanya peduli untuk memasukkan pengetahuan ke peserta didik dengan alasan mengejar nilai semata. Dengan pembelajaran yang monoton yakni ceramah dilanjutkan mencatat kemudian drill soal dan akhirnya latihan-latihan soal mendorong peserta didik menjadi sesosok yang pandai menghapal sesaat.

Banyak permasalahan yang menjadikan sesosok guru menjadi mesin nilai bagi sekolah, dinas, dan negara. Guru di Idonesia tidak menjadikan pekerjaan guru sebagai sebuah profesi yang dengan penuh iklas dijalani segala resiko dan kendalanya. Mereka memilih profesi guru sebagai sebuah profesi yang aman dan nyaman. Kebanyakan guru di Indonesia lebih “playing save”. Dengan menjadi guru, mereka akan dapat tunjangan hari tua (pensiun). Dengan menjadi guru, mereka dapat melakukan pekerjaan lain karena waktu mengajar sedikit. Alasan-alasan tersebut menjadi dasar mengapa profesionalisme guru kadangkala dan bahkan jarang ada dalam diri seorang guru. Setelah keluar dari lingkup sekolah, guru tidak lagi berfikir bagimana perkembangan peserta didik mereka? Pendidikan hanya berhenti di dalam sekolah dan bahkan kelas.

Berangkat dari paradigma yang salah mengenai nilai, guru hanya menyampaikan, tidak ada proses dialog dalam pembelajaran. Sering kali, terjadi pembunuhan karakter terlebih pada pengajaran di tingkat dasar. Kurangnya pemahaman akan hakikat anak menjadikan sebagian guru di Indonesia membelenggu peserta didik untuk dapat mengembangkan segala potensi yang ada. Guru tidak memiliki kesadaran bahwa semua anak yang terlahir di dunia memiliki karakteristik yang berbeda sekalipun kembar siam. Hasilnya adalah pembelajaran yang menyeragamkan tanpa kecuali. Peserta didik lebih diarahkan untuk memenuhi sejumlah target kurikulum.

Sebagiamana Freire menyatakan di dalam buku L’educazione come practica della libeazione (1969), dia menawarkan model pendidikan yang lebih dialogal, yaitu guru dan murid saling mendidik. Keduanya tidak terpaku pada buku teks, yang sudah disusun begitu tematis mengikuti kurikulum.Sebaliknya, mereka lebih diarahkan untuk mengembangkan daya nalar dan rasa serta kemampuan kreatif karsa dalam situasi apapun. Sudah saatnya, guru-guru di Indonesia memegang prinsip-prinsip tersebut. Guru juga tidak hanya harus menguasai satu atau beberapa disiplin keilmuan yang harus dapat diajarkannya, ia harus juga mendapat pendidikan kebudayaan yang mendasar untuk aspek manusiawinya. Pendidikan kebudayaan mengajarkan bagaiman menghubungkan pengetahuan dengan lingkungan sekitar.

Guru Indoensia sebagian besar tidak memiliki visi yang jelas akan dibawa kemana peserta didik mereka. Visi guru telah dibuyarkan dengan nilai ekonomis dan prestise untuk mencapai hegomoni sesaat karena telah membawa peserta didiknya meraih nilai tertinggi. Bagaimana mungkin membentuk karakter peserta didik jika karakter sang guru pun tidak kuat? Guru tidak memiliki visi yang jelas kemana peserta didik meraka akan dibawa.

Satu prinsip penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan dalam proses ini dengan memberikan kesempatan siswa untuk menentukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar siswa menjadi sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa, anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri harus memanjat anak tangga tersebut.

Merdeka Belajar Sebuah Utopia?

Pada dasarnya pendidikan yang membebaskan adalah situasi dimana guru dan siswa sama-sama memiliki perbedaan. Kenyataan yang ada di Indonesia, guru tidak memandang adanya perbedaan diantara paeserta didik.

Seorang guru harus memiliki konsep yang kuat akan tujuan pendidikan sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru tersebut selalu melihat apakah mereka on the right track. Setiap saat, mereka harus senantiasa melakukan self evaluation terhadap setiap langkah dalam pembelajaran yang mereka jalankan. Karakter guru yang kuat harus terbangun terlebih dahulu sebelum seseorang memasuki dunia guru. Dengan demikian, dalam menjalankan tugas, beliau akan selalu melihat landasan ontologi memasuki dunia pendidikan. Tidak ada lagi sifat menyalahkan peserta didik ketika terjadi kegagalan output pendidikan namun evaluasi diri lebih menjadi dasar untuk menuju perbaikan.

Pertanyaan yang (seharusnya) selalu hadir dalam seorang diri guru adalah akan dibawa kemana peserta didik ini? Bagaimana membawanya? Kedua pertanyaan itu menjadi dasar seorang guru untuk melangkah dalam proses pembelajaran.

Bagaimana membawanya? Pertanyaan tersebut terkait dengan metode yang akan dipakai dalam proses pembelajaran. Bagaimana seorang guru menerapkan pembelajaran yang akan membentuk peserta didik pada pribadi yang optimal? Guru harus memiliki teknik-teknik penyampaian pengetahuan yang tidak membelenggu. Tidak hanya itu, guru harus juga memiliki metode-metode dalam memperlakukan peserta didik secara berbeda mengingat peserta didik adalah pribadi yang berbeda sehingga setiap pribadi dipertajam pisau analisisnya, diasah nuraninya, dan dikuatkan kehendaknya, agar dalam konteks apapun mereka sanggup mengambil keputusan yang tepat. Namun, seseorang yang menguasai ilmu pengetahuan dengan baik dapat menjadi guru yang baik, oleh karena biar bagaimanapun mengajar adalah seni. Tetapi sebaliknya biar bagaimanapun mahirnya orang menguasai seni mengajar (art of teaching), selama ia tidak punya sesuatu yang akan diajarkannya tentu ia tidak akan pantas dianggap menjadi guru.

 

Mengkritisi untuk Kebaikan Pendidikan Indonesia

Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap pendidikan, atau tepatnya terhadap praktek pendidikan, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu komunitas atau suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada kontribusinya pendidikan. Shane (1984: 39), misalnya sangat yakin bahwa pendidikanlah yang dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok. Pendapat yang sama juga bisa kita baca dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain menyatakan: “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.

Dengan demikian, sebagai institusi, pendidikan pada prinsipnya memikul amanah “etika masa depan”. Etika masa depan timbul dan dibentuk oleh kesadaran bahwa setiap anak manusia akan menjalani sisa hidupnya di masa depan bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi. Hal ini berarti bahwa, di satu pihak, etika masa depan menuntut manusia untuk tidak mengelakkan tanggung jawab atas konsekuensi dari setiap perbautan yang dilakukannya sekarang ini. Sementara itu pihak lain, manusia dituntut untuk mampu mengantisipasi, merumuskan nilai-nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas dalam suasana yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari (Joesoef, 2001: 198-199).

Dalam konteks etika masa depan tersebut, karenanya visi pendidikan seharusnya lahir dari kesadaran bahwa kita sebaiknya jangan menanti apapun dari masa depan, karena sesungguhnya masa depan itulah mengaharap-harapkan dari kita, kita sendirilah yang seharusnya menyiapkannya (Joesoef, 2001: 198). Visi ini tentu saja mensyaratkan bahwa, sebagai institusi, pendidikan harus solid. Idealnya, pendidikan yang solid adalah pendidikan yang steril dari berbagai permasalahan. Namun hal ini adalah suatu kemustahilan. Suka atau tidak suka, permasalahan akan selalu ada dimanapun dan kapanpun, termasuk dalam institusi pendidikan.

Oleh karena itu, persoalannya bukanlah usaha menghindari permasalahah, tetapi justru perlunya menghadapi permasalahan itu secara cerdas dengan mengidentifikasi dan memahami substansinya untuk kemudian dicari solusinya.

Tulisan ini berusaha mengidentifikasi dan memahami permasalahan-permasalahan pendidikan kontemporer di Indonesia. Permasalahan-permasalahan pendidikan dimaksud dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu permasalahan eksternal dan permasalahan internal. Perlu pula dikemukakan bahwa permasalah pendidikan yang diuraikan dalam makalah ini terbatas pada permasalahan pendidikan formal.

Permasalahan Eksternal Pendidikan Masa Kini

Permasalahan eksternal pendidikan di Indonesia dewasa ini sesungguhnya sangat komplek. Hal ini dikarenakan oleh kenyataan kompleksnya dimensi-dimensei eksternal pendidikan itu sendiri. Dimensi-dimensi eksternal pendidikan meliputi dimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan bahkan juga dimensi global.

Dari berbagai permasalahan pada dimensi eksternal pendidikan di Indonesia dewasa ini, makalah ini hanya akan menyoroti dua permasalahan, yaitu permasalahan globalisasi dan permasalahan perubahan sosial.

Permasalahan globalisasi menjadi penting untuk disoroti, karena ia merupakan trend abad ke-21 yang sangat kuat pengaruhnya pada segenap sector kehidupan, termasuk pada sektor pendidikan. Sedangakan permasalah perubahan social adalah masalah “klasik” bagi pendidikan, dalam arti ia selalu hadir sebagai permasalahan eksternal pendidikan, dan karenya perlu dicermati. Kedua permasalahan tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan, jika pendidikan ingin berhasil mengemban misi (amanah) dan fungsinya berdasarkan paradigma etika masa depan.

Permasalahan Globalisasi

Globalisasi mengandung arti terintegrasinya kehidupan nasional ke dalam kehidupan global. Dalam bidang ekonomi, misalnya, globalisasi ekonomi berarti terintegrasinya ekonomi nasional ke dalam ekonomi dunia atau global (Fakih, 2003: 182). Bila dikaitkan dalam bidang pendidikan, globalisasi pendidikan berarti terintegrasinya pendidikan nasional ke dalam pendidikan dunia. Sebegitu jauh, globalisasi memang belum merupakan kecenderungan umum dalam bidang pendidikan. Namun gejala kearah itu sudah mulai Nampak.

Sejumlah SMK dan SMA di beberapa kota di Indonesia sudah menerapkan sistem Manajemen Mutu (Quality Management Sistem) yang berlaku secara internasional dalam pengelolaan manajemen sekolah mereka, yaitu SMM ISO 9001:2000; dan banyak diantaranya yang sudah menerima sertifikat ISO.

Oleh karena itu, dewasa ini globalisasi sudah mulai menjadi permasalahan actual pendidikan. Permasalahan globalisasi dalam bidang pendidikan terutama menyangkut output pendidikan. Seperti diketahui, di era globalisasi dewasa ini telah terjadi pergeseran paradigma tentang keunggulan suatu Negara, dari keunggulan komparatif (Comperative adventage) kepada keunggulan kompetitif (competitive advantage). Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, sementara keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas (Kuntowijoyo, 2001: 122).

Dalam konteks pergeseran paradigma keunggulan tersebut, pendidikan nasional akan menghadapi situasi kompetitif yang sangat tinggi, karena harus berhadapan dengan kekuatan pendidikan global. Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan bahwa globalisasi justru melahirkan semangat cosmopolitantisme dimana anak-anak bangsa boleh jadi akan memilih sekolah-sekolah di luar negeri sebagai tempat pendidikan mereka, terutama jika kondisi sekolah-sekolah di dalam negeri secara kompetitif under-quality (berkualitas rendah). Kecenderungan ini sudah mulai terlihat pada tingkat perguruan tinggi dan bukan mustahil akan merambah pada tingkat sekolah menengah.

Bila persoalannya hanya sebatas tantangan kompetitif, maka masalahnya tidak menjadi sangat krusial (gawat). Tetapi salah satu ciri globalisasi ialah adanya “regulasi-regulasi”. Dalam bidang pendidikan hal itu tampak pada batasan-batasan atau ketentuan-ketentuan tentang sekolah berstandar internasional. Pada jajaran SMK regulasi sekolah berstandar internasional tersebut sudah lama disosialisasikan. Bila regulasi berstandar internasional ini kemudian ditetapkan sebagai prasyarat bagi output pendidikan untuk memperolah untuk memperoleh akses ke bursa tenaga kerja global, maka hal ini pasti akan menjadi permasalah serius bagi pendidikan nasional.

Globalisasi memang membuka peluang bagi pendidikan nasional, tetapi pada waktu yang sama ia juga mengahadirkan tantangan dan permasalahan pada pendidikan nasional. Karena pendidikan pada prinsipnya mengemban etika masa depan, maka dunia pendidikan harus mau menerima dan menghadapi dinamika globalisasi sebagai bagian dari permasalahan pendidikan masa kini.

Permasalahan perubahan sosial

Ada sebuah adegium yang menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya berubah; satu-satunya yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Itu artinya, perubahan sosial merupakan peristiwa yang tidak bisa dielakkan, meskipun ada perubahan sosial yang berjalan lambat dan ada pula yang berjalan cepat.

Bahkan salah satu fungsi pendidikan, sebagaimana dikemukakan di atas, adalah melakukan inovasi-inovasi sosial, yang maksudnya tidak lain adalah mendorong perubahan sosial. Fungsi pendidikan sebagai agen perubahan sosial tersebut, dewasa ini ternyata justru melahirkan paradoks.

Kenyataan menunjukkan bahwa, sebagai konsekuansi dari perkembangan ilmu perkembangan dan teknologi yang demikian pesat dewasa ini, perubahan sosial berjalan jauh lebih cepat dibandingkan upaya pembaruan dan laju perubahan pendidikan. Sebagai akibatnya, fungsi pendidikan sebagai konservasi budaya menjadi lebih menonjol, tetapi tidak mampu mengantisipasi perubahan sosial secara akurat (Karim, 1991: 28). Dalam kaitan dengan paradoks dalam hubungan timbal balik antar pendidikan dan perubahan sosial seperti dikemukakan di atas, patut kiranya dicatat peringatan Sudjatmoko (1991:30) yang menyatakan bahwa Negara-negara yang tidak mampu mengikuti revolusi industri mutakhir akan ketinggalan dan berangsur-angsur kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kedudukannya sebagai Negara merdeka. Dengan kata lain, ketidakmampuan mengelola dan mengikuti dinamika perubahan sosial sama artinya dengan menyiapkan keterbelakangan. Permasalahan perubahan sosial, dengan demikian harus menjadi agenda penting dalam pemikiran dan praksis pendidikan nasional.

Permasalahan Internal Pendidikan Masa Kini

Seperti halnya permasalahan eksternal, permasalahan internal pendidikan di Indonesia masa kini adalah sangat kompleks. Daoed Joefoef (2001: 210-225) misalnya, mencatat permasalahan internal pendidikan meliputi permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan strategi pembelajaran, peran guru, dan kurikulum. Selain ketiga permasalahan tersebut sebenarnya masih ada jumlah permasalahan lain, seperti permasalahan yang berhubungan dengan sistem kelembagaan, sarana dan prasarana, manajemen, anggaran operasional, dan peserta didik. Dari berbagai permasalahan internal pendidikan dimaksud, makalah ini hanya akan membahas tiga permasalahan internal yang di pandang cukup menonjol, yaitu permasalahan sistem kelembagaan, profesionalisme guru, dan strategi pembelajaran.

Permasalahan sistem kelembagaan pendidikan

Permasalahan sistem kelembagaan pendidikan yang dimaksud dengan uraian ini ialah mengenai adanya dualisme atau bahkan dikotomi antar pendidikan umum dan pendidikan agama. Dualisme atau dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama ini agaknya merupakan warisan dari pemikiran Islam klasik yang memilah antara ilmu umum dan ilmu agama atau ilmu ghairuh syariah dan ilmu syariah, seperti yang terlihat dalam konsepsi al-Ghazali (Otman, 1981: 182).

Dualisme dikotomi sistem kelembagaan pendidikan yang berlaku di negeri ini kita anggap sebagai permasalahan serius, bukan saja karena hal itu belum bisa ditemukan solusinya hingga sekarang, melainkan juga karena ia, menurut Ahmad Syafii Maarif (1987:3) hanya mampu melahirkan sosok manusia yang “pincang”. Jenis pendidikan yang pertama melahirkan sosok manusia yang berpandangan sekuler, yang melihat agama hanya sebagai urusan pribadi.

Sedangkan sistem pendidikan yang kedua melahirkan sosok manusia yang taat, tetapi miskim wawasan. Dengan kata lain, adanya dualisme dikotomi sistem kelembagaan pendidikan tersebut merupakan kendala untuk dapat melahirkan sosok manusia Indonesia “seutuhnya”. Oleh karena itu, Ahmad Syafii Maarif (1996: 10-12) menyarankan perlunya modal pendidikan yang integrative, suatu gagasan yang berada di luar ruang lingkup pembahasan makalah ini.

Permasalahan Profesionalisme Guru

Salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan dan proses pembelajaran adalah pendidik atau guru. Betapapun kemajuan taknologi telah menyediakan berbagai ragam alat bantu untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran, namun posisi guru tidak sepenuhnya dapat tergantikan. Itu artinya guru merupakan variable penting bagi keberhasilan pendidikan.

Menurut Suyanto (2006: 1), “guru memiliki peluang yang amat besar untuk mengubah kondisi seorang anak dari gelap gulita aksara menjadi seorang yang pintar dan lancar baca tulis alfabetikal maupun fungsional yang kemudian akhirnya ia bisa menjadi tokoh kebanggaan komunitas dan bangsanya”. Tetapi segera ditambahkan: “guru yang demikian tentu bukan guru sembarang guru. Ia pasti memiliki profesionalisme yang tinggi, sehingga bisa “digugu lan ditiru”.

Lebih jauh Suyanto (2006: 28) menjelaskan bahwa guru yang profesional harus memiliki kualifikasi dan ciri-ciri tertentu. Kualifikasi dan ciri-ciri dimaksud adalah: (a) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat, (b) harus berdasarkan atas kompetensi individual, (c) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi, (d) ada kerja sama dan kompetisi yang sehat antar sejawat, (e) adanya kesadaran profesional yang tinggi, (f) meliki prinsip-prinsip etik (kide etik), (g) memiliki sistem seleksi profesi, (h) adanya militansi individual, dan (i) memiliki organisasi profesi.

Dari ciri-ciri atau karakteristik profesionalisme yang dikemukakan di atas jelaslah bahwa guru tidak bisa datang dari mana saja tanpa melalui sistem pendidikan profesi dan seleksi yang baik. Itu artinya pekerjaan guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai usaha sambilan, atau pekerjaan sebagai moon-lighter. Namun kenyataan dilapangan menunjukkan adanya guru terlebih terlebih guru honorer, yang tidak berasal dari pendidikan guru, dan mereka memasuki pekerjaan sebagai guru tanpa melalui system seleksi profesi. Singkatnya di dunia pendidikan nasional ada banyak, untuk tidak mengatakan sangat banyak, guru yang tidak profesioanal. Inilah salah satu permasalahan internal yang harus menjadi “pekerjaan rumah” bagi pendidikan nasional masa kini.

Permasalahan Strategi Pembelajaran

Menurut Suyanto (2006: 15-16) era globalisasi dewasa ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap pola pembelajaran yang mampu memberdayakan para peserta didik. Tuntutan global telah mengubah paradigma pembelajaran dari paradigma pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran baru. Suyanto menggambarkan paradigma pembelajaran sebagai berpusat pada guru, menggunakan media tunggal, berlangsung secara terisolasi, interaksi guru-murid berupa pemberian informasi dan pengajaran berbasis factual atau pengetahuan.

Paulo Freire (2002: 51-52) menyebut strategi pembelajaran tradisional ini sebagai strategi pelajaran dalam “gaya bank” (banking concept). Di pihak lain strategi pembelajaran baru digambarkan oleh Suyanto sebagai berikut: berpusat pada murid, menggunakan banyak media, berlangsung dalam bentuk kerja sama atau secara kolaboratif, interaksi guru-murid berupa pertukaran informasi dan menekankan pada pemikiran kritis serta pembuatan keputusan yang didukung dengan informasi yang kaya. Model pembelajaran baru ini disebut oleh Paulo Freire (2000: 61) sebagai strategi pembelajaran “hadap masalah” (problem posing).

Meskipun dalam aspirasinya, sebagaimana dikemukakan di atas, dewasa ini terdapat tuntutan pergeseran paradigma pembelajaran dari model tradisional ke arah model baru, namun kenyataannya menunjukkan praktek pembelajaran lebih banyak menerapkan strategi pembelajaran tradisional dari pembelajaran baru (Idrus, 1997: 79). Hal ini agaknya berkaitan erat dengan rendahnya professionalisme guru. Selamat Hari Pendidikan Nasional

Editor: Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.