Soedirman, Kader Muhammadiyah Yang Jenderal Besar

0
622

Oknews.co.id – Magelang, Salah satu ruang kelas di Sekolah Rakyat Muhammadiyah ( HIS Muhammadiyah)  Kepatihan, Cilacap, Jawa Tengah yang sedang belajar aljabar itu mendadak berhenti. Mereka kedatangan 2 orang tamu. Bersama wali kelas, kedua tamu itu berdiri di depan 30-an murid kelas lima. Seorang di antaranya maju mendekati meja paling depan, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas, kemudian uluk salam dan memperkenalkan diri. “Saya Soedirman, dan ini Pak Isdiman.”

 

Semua murid HIS Muhammadiyah tertegun. Dengan seksama mereka mendengarkan apa yang disampaikan orang yang kelak jadi Panglima Tentara Nasional Indonesia pertama itu. “Saya mau pamit akan berjuang bersama Dai Nippon,” ujarnya. Pria berpeci hitam, berkemeja putih kusam, dan bercelana panjang berwarna krem itu melanjutkan kalimatnya.

“Saya minta pangestu semoga berhasil. Anak-anak yang sudah besar nanti juga harus berjuang. Membela negara.”

Seluruh murid yang berada dalam kelas serentak menjawab, “Nggih, Pak!”. Soedirman mengakhiri kunjungan itu dengan menyalami para murid samnil meninggalkan ruangan. Isdiman, yang tak mengatakan berbicara apa-apa mengikuti di belakangnya.

 

Soedirman Taufik, menceritakan kisah yang ia alami 69 tahun silam itu kepada  yang dimuat dalam bukunya “Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir” (2013). Taufik juga mengetahui, Soedirman dan Isdiman juga berpamitan ke beberapa sekolah lainnya sebelum bergabung dengan tentara sukarela bentukan Jepang, Pembela Tanah Air (Peta). “Pak Dirman memang guru dan kader Muhammadiyah sejati,” katanya.

Cara Soedirman mengajar

Lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Parama Wiworotomo–setingkat SMP– pada 1934, Soedirman sempat melanjutkan Sekolah Guru Bantu (Hollandsche Indische Kweekschool) di Solo, Jawa Tengah. Namun ia tak menamatkan sekolahnya di sana, dan kembali ke Cilacap setahun kemudian.

Kemudian Soedirman bertemu tokoh Muhammadiyah Cilacap, R. Mohammad Kholil. Berkat guru pribadinya itu, ia diangkat menjadi guru sekolah dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah Cilacap.

 

Cara Soedirman mengajar dinilai tak monoton, kadang dibumbui dengan canda, dan kerap diselingi pesan agama dan nasionalisme. Hal itu dituturkan oleh salah satu muridnya, Marsidik, kepada Sardiman dalam bukunya “Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Soedirman” (2008).

 

 

Kepiawaian Soedirman mencampurkan humor dan selingan cerita-cerita pewayangan membuat dirinya populer di kalangan muridnya. Meskipun bergaji kecil, Soedirman tetap mengajar dengan giat. Beberapa tahun kemudian, kegigihannya itu berbuah manis. Ia diangkat menjadi kepala sekolah meski tak punya ijazah guru. Hasilnya, gaji bulannya meningkat empat kali lipat dari tiga gulden menjadi dua belas setengah gulden.

 

 

Sebagai kepala sekolah, Soedirman mengerjakan berbagai tugas-tugas administrasi, termasuk mencari jalan tengah di antara guru yang berseteru. Masih menurut Marsidik (2008), seorang rekan kerjanya pernah mengisahkan bahwa Soedirman adalah seorang pemimpin yang moderat dan demokratis. Soedirman tak itungan soal pekerjaan, ia juga aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun untuk pembangunan lainnya.

Aktif HW sejak kecil

Aktif HW dan Pemuda Muhammadiyah

Selama waktu-waktu ini, Soedirman juga aktif  Pemuda Muhammadiyah. Dalam kelompok ini, ia dikenal sebagai negosiator dan mediator yang lugas. Soedirman terpilih sebagai Ketua Cabang Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Banyumas pada akhir 1937. Selama menjabat, ia memfasilitasi seluruh kegiatan dan pendidikan para anggota, baik dalam bidang agama ataupun kebangsaan.

Dilahirkan pada 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Purbalingga, Jawa Tengah dengan ayah bernama Karsid Kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Ibunya bernama Siyem. Sejak bayi, Sudirman telah diangkat anak oleh Raden Cokrosunaryo, Asisten Wedana (Camat) di Rembang, Purbalingga. Setelah pensiun, keluarga Cokrosunaryo menetap di Cilacap.

Pada tahun 1930, Soedirman lulus dari HIS (pendidikan di Sekolah ini lamanya tujuh tahun). Selama dua tahun Soedirman tidak bersekolah, sebagai gantinya ia bekerja, bertani dan mengaji. Pada tahun 1932 Soedirman memasuki MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs = SMP) Wiworo Tomo dan tamat pada tahun 1935. Ia juga aktif di organisasi kepramukaan Hizbulwathon (HW) yang diasuh oleh Muhammadiyah. Melalui kegiatan kepanduan ini bakat-bakat kepemimpinan Soedirman mulai kelihatan. Ia ternyata seorang pandu yang berdisiplin, militan dan bertanggung jawab. Hal ini terlihat ketika suatu kali Hizbulwathon mengadakan jambore di lereng Gunung Slamet yang terkenal berhawa dingin. Pada malam hari udara sedemikian dinginnya, sehingga anak-anak pramuka tidak tahan tinggal di kemah. Mereka pergi ke penginapan yang ada di dekat tempat tersebut. Hanya Soedirman sendiri yang tetap tinggal di kemahnya.

 

 

Setelah lulus dari MULO Wiworo Tomo, Soedirman tetap aktif di Hizbulwathon dan kemudian menjadi guru di HIS Muhammadiyah. Pilihan itu memang tepat, karena Soedirman mempunyai bakat sebagai seorang guru. Dikisahkan oleh seorang muridnya dalam biografi Jendral Sudirman bahwa Soedirman ini adalah seorang guru yang sangat adil dan juga begitu sabar di dalam mendidik murid-muridnya. Dikenal sebagai sosok yang moderat da demokratif. Dulunya beliau adalah seorang yang aktif di dalam kelompok Pemuda Muhammadiyah. Hingga kemudian pada saat tahun 1937 diangkat menjadi ketua dari kelompok Pemuda Muhammadiyah tersebut, pada waktu itu kondisinya Sudirman memang sudah menikah.

 

 

 

Bukan hanya Soerdirman saja, namun juga dikatakan bahwa istrinya juga termasuk sosok wanita yang sangat aktif dalam kegiatan kelompok putri Muhammadiyah Nasyiatul Aisyiyah. Dulunya Sudirman ini setelah lulus dari Wirotomo, belajar selama satu tahun di sekolah guru, namun karena kekurangan biaya maka beliau memutuskan untuk mengajar di Cilacap di sebuah Sekolah Dasar Muhammadiyah. Dikisahkan oleh seorang muridnya dalam biografi Jendral Sudirman bahwa Soedirman ini adalah seorang guru yang sangat adil dan juga begitu sabar di dalam mendidik murid-muridnya. Dikenal sebagai sosok yang moderat da demokratif. Dulunya beliau adalah seorang yang aktif di dalam kelompok Pemuda Muhammadiyah. Hingga kemudian pada saat tahun 1937 diangkat menjadi ketua dari kelompok Pemuda Muhammadiyah tersebut, pada waktu itu kondisinya Sudirman memang sudah menikah.

 

Bukan hanya Soerdirman saja, namun juga dikatakan bahwa istrinya juga termasuk sosok wanita yang sangat aktif dalam kegiatan kelompok putri Muhammadiyah Nasyiatul Aisyiyah. Dulunya Sudirman ini setelah lulus dari Wirotomo, belajar selama satu tahun di sekolah guru, namun karena kekurangan biaya maka beliau memutuskan untuk mengajar di Cilacap di sebuah Sekolah Dasar Muhammadiyah.

 

 

 

Dalam biografi Jendral Sudirman, beliau ini memang dikenal sebagai sosok guru yang sangat adil, sering kali mencampurkan humor saat sedang mengajar, meskipun gaji yang diterimanya tidak seberapa, tergolong kecil, namun tetap mengajar dengan giat, itulah yang membuatnya kemudian diangkat menjadi kepala sekolah meskipun sebenarnya tidak memiliki ijazah guru. Sehingga membuat pendapatannya juga meningkat 4 kali lipat dari 3 gulden menjadi 12,5 gulden saat itu.

 

 

Tahun 1936, Soedirman memasuki hidup baru, ia menikah dengan Alfiah. Istrinya ini sudah dikenalnya sewaktu bersekolah di Wiworo Torno. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai 7 orang anak.

 

 

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, Sekolah Muhammadiyah terpaksa ditutup, karena Jepang melarang sekolah itu berdiri. Atas usaha keras Soedirman sekolah tersebut akhirnya boleh dibuka kembali. Kemudian Soedirman dengan dibantu beberapa orang temannya mendirikan koperasi dagang yang dinamai Perbi yang langsung diketuainya sendiri. Dengan berdirinya Perbi, kemudian di Cilacap berdiri beberapa koperasi, yang menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Melihat gelagat ini, kemudian Soedirman berusaha mempersatukannya, dan akhirnya berdirilah Persatuan Koperasi Indonesia Wijayakusuma.

 

Pada masa pendudukan Jepang, kondisi rakyat kesulitan mencari bahan makanan. Keadaan ini membangkitkan semangat Sudirman melalui kepanduan Hizbul Wathon Muhammadfiyah  membentuk danf membina Badan Pengurus Makanan Rakyat (BPMR), suatu badan yang dikelola oleh masyarakat sendiri, bukan badan buatan Pemerintah Jepang. Badan ini bergerak dibidang pengumpulan dan distribusi bahan makanan untuk menghindarkan rakyat Cilacap dari bahaya kelaparan. Ia termasuk tokoh masyarakat karena kecakapan memimpin organisasi dan kejujurannya.

Pada bulan Oktober 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Sudirman sebagai tokoh masyarakat ditunjuk untuk mengikuti latihan PETA angkatan kedua di Bogor. Selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Daidanco (komandan batalyon) berkedudukan di Kroya, Banyumas. Di sanalah Sudirman memulai karirnya sebagai seorang prajurit.

Setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Jepang membubarkan PETA dan melucuti senjata mereka. Semua anggota PETA disuruh pulang ke kampung halaman masing-masing. Pada tanggal 22 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Sudirman dan beberapa rekannya sesama tentara PETA mendirikan cabang BKR di Banyumas pada akhir Agustus. Sudirman berusaha menghimpun kekuatan BKR. Bersama Residen Banyumas Mr. Iskaq Tjokroadisurjo dan beberapa tokoh lainnya, Sudirman melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang secara damai. Komandan Batalyon Tentara Jepang Mayor Yuda menyerahkan senjata cukup banyak. Karena itu BKR Banyumas merupakan kesatuan yang memiliki senjata terlengkap.

Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, Sudirman kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Sudirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Walaupun saat itu Sudirman mulai menderita penyakit tuberkulosis, dia tetap terjun langsung dalam beberapa kampanye perang gerilya melawan pasukan Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) Belanda.

Perang besar pertama yang dipimpin Sudirman adalah Perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945. Dan pada tanggal 12 Desember 1945, Sudirman melancarkan serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris di Ambarawa. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari tersebut diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Setelah kemenangan Sudirman dalam Palagan Ambarawa, pada 18 Desember 1945 Sudirman dilantik sebagai Jenderal oleh Presiden Sukarno. Sudirman memperoleh pangkat Jenderal tersebut tidak melalui sistem Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya, tapi karena prestasinya. Itulah yang membedakan Sudirman dengan yang lain.

Saat terjadinya Agresi Militer II Belanda, Ibukota Republik Indonesia dipindahkan di Yogyakarta, karena Jakarta sudah diduduki oleh tentara Belanda. Sudirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda II tanggal 19 Desember 1948. Dalam perlawanannya, Sudirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya. Walaupun begitu, dia ikut terjun ke medan perang bersama pasukannya dalam keadaan ditandu, tetap memimpin para tentara untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda secara gerilya.

Penyakit yang diderita Sudirman saat berada di Yogyakarta semakin parah. Paru-parunya yang berfungsi hanya tinggal satu. Yogyakarta kemudian dikuasai Belanda, walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia. Saat itu, Presiden Sukarno dan Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting, Sudirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang gerilya. Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah bahkan dalam kondisi hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis.

Mulai tanggal 1 April 1949, Sudirman menetap di desa Sobo, daerah Solo, Jawa Tengah. Walaupun tengah sakit, ia tetap memberi petunjuk dan strategi kepada para prajuritnya. Perang gerilya itu akhirnya berhasil mematahkan serbuan Belanda. Belanda pun mengajak berunding. Sudirman pun diminta untuk kembali ke Yogya. Perundingan dengan pihak Belanda, khususnya mengenai kedudukan Angkatan Perang, tidak mungkin diadakan tanpa hadirnya Panglima Besar di Ibukota.

Tanggal 10 Juli 1949, Jenderal Sudirman dan rombongan kembali ke Yogya. Untuk menyambut kedatangannya, parade militer diadakan di alun-alun Yogyakarta yang penuh diliputi suasana haru. Mereka yang selama bergerilya terkenal berani, tak urung meneteskan air mata atau menangis tersedu setelah menyaksikan keadaan fisik Sudirman yang pucat dan kurus. Rasa haru dan kagum bercampur menjadi satu. Hal itu menunjukkan betapa berharganya Jenderal Sudirman di hati anak buahnya.

Pemerintah Indonesia dan Belanda terus mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan dan berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Sudirman saat itu juga diangkat sebagai Panglima Besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat.

Pada 29 Januari 1950, Sudirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada tahun 1997, Jenderal Sudirman mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI sampai sekarang. Namanya pun menjadi salah satu nama jalan utama di Ibukota Jakarta

 

Jumat, 1 November 1946. Udara pagi Jakarta mulai menghangat, saat serangkaian kereta api istimewa memasuki Stasiun Manggarai. Begitu berhenti, ribuan orang yang memenuhi ruang tunggu mulai ramai bersuara. Suasana mulai “histeris” manakala dari salah satu gerbong muncul dua orang yang ditunggu:  Panglima Besar Tentara Republik Indonesia (TRI) Jenderal Soedirman dan Kepala Staf TRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo.

 

“Pekik merdeka kembali berdengung di Jakarta, menyambut kedatangan Pak Dirman,” ujar mantan Menteri Pertambangan di era Orde Baru Soebroto, seperti dikutip sejarawan Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1959.

 

 

Soebroto adalah salah seorang kadet Akademi Militer Yogyakarta. Bersama 14 rekannya, dia masuk dalam barisan pengawal Soedirman saat itu. Mereka terpilih karena dianggap berasal dari kalangan elit TRI yang memiliki disiplin tinggi dan kapasitas intelektual yang memadai (salah satunya menguasai bahasa Inggris dan bahasa Belanda). Kriteria itu penting supaya prajurit-prajurit TRI tidak  memalukan bila tampil di depan hidung tentara Inggris dan tentara Belanda.

 

Kedatangan para pucuk pimpinan TRI ke Jakarta dalam rangka menindaklanjuti hasil Perjanjian Linggarjati antara pemerintah RI dengan pemerintah Kerajaan Belanda yang hingga akhir Oktober 1946 sudah mendekati final. Mereka akan membicarakan soal teknis dari pelaksanaan gencatan senjata antara kedua belah pihak.

 

Belanda sendiri awalnya keberatan dengan kedatangan Jenderal Soedirman lengkap dengan para pengawal bersenjatanya ke Jakarta. Bahkan dalam nada marah, Panglima KNIL Jenderal S.H. Spoor menyebut upaya itu sebagai bentuk provokasi dari Soedirman. Dalam suratnya kepada Kepala Staf Umum Tentara Kerajaan Belanda Jenderal H.J. Kruls, Spoor menyatakan kedatangan Soedirman dengan rombongan bersenjatanya ke Batavia sungguh memberi malu  kepada orang-orang Belanda.

 

 

“Ia sangat berang dengan tindakan provokatif Jenderal Soedirman ‘dengan 80 perompak-nya’ di Batavia,” tulis sejarawan JA.de Moor dalam Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia.

 

 

Spoor juga menyebut bahwa Soedirman dan para republiken sama sekali tidak

memiliki niat baik untuk menciptakan perdamaian. Mereka tidak loyal terhadap kesepakatan yang sudah diciptakan oleh kedua pihak dalam Perjanjian Linggarjati. Namun apa boleh buat, orang-orang Inggris yang masih bercokol di Jakarta dan merupakan wakil sah dari Sekutu, menginginkan Belanda untuk menyelesaikan semaksimal mungkin konfliknya dengan Indonesia harus lewat meja perundingan.

“Belanda kini terpaksa berunding dengan para ‘bajingan dan kolaborator dari masa perang’,” ungkapnya.

 

Di lain pihak, kedatangan rombongan Soedirman ke Jakarta, memang dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir.  Menurut sejarawan Rushdy Hoesein, sebenarnya bisa saja rombongan Panglima Besar menyudahi perjalanannya di Stasiun Gambir dan diam-diam langsung masuk Hotel Shutteraff yang ada persis di muka stasiun tersebut (sekarang Gedung Pertamina).

 

 

“Namun Sjahrir menginginkan supaya Soedirman dan rombongannya diarak dari Stasiun Manggarai menuju hotel tempat mereka menginap untuk memperlihatkan kepada Belanda dan Inggris bahwa Republik memiliki tentara yang patut dibanggakan,” ujarnya.

 

 

 

Bagi para pengawal, situasi tersebut merupakan ujian tersendiri bagi kedisiplinan mereka sebagai tentara. Terutama bagi yang kebagian jaga di depan hotel, persis menghadap jalan raya. Entah berapa kali dalam sehari, serdadu-serdadu Belanda secara provokatif berjalan hilir-mudik di depan mereka dengan sorot mata memusuhi dan menghina.

 

 

“Kami masing-masing hanya bisa saling melototkan mata saja, untunglah tidak sampai terjadi insiden,” kenang Soebroto.

 

 

Namun selain perang urat syaraf, ada juga kenangan indahnya. Tak jarang orang-orang Jakarta, terutama para gadisnya, mondar-mandir di depan kadet penjaga. Mereka rupanya sengaja lewat depan Hotel Shutteraff hanya sekadar ingin tahu betapa tampan dan gagahnya para prajurit TRI yang mereka banggakan itu.

 

Rombongan Soedirman berada di Jakarta hingga Selasa sore, 5 November 1946. Paginya, Panglima Besar masih menyempatkan diri melakukan shalat Idul Adha di Lapangan Gambir (sekarang kawasan Monas) bersama masyarakat Jakarta. Seperti saat menyambut kedatangan Soedirman di Stasiun Manggarai beberapa hari sebelumnya, ribuan masyarakat Jakarta pun terlihat antusias menjalankan shalat berjamaah dengan panglima besar-nya.

 

 

Berikut kumpulan fakta menarik soal sosok kelahiran Purbalingga 24 Januari 1916 ini ;

 

Pemuda Cerdas yang Hidup Jauh dari Orang Tua

Sejak lahir Jenderal Soedirman tidak hidup dengan kedua orang tuanya. Ia hidup dengan saudara dari ibunya yang bernama Raden Cokrosunaryo yang saat itu jadi camat.

 

 

Ia pun mendapatkan gelar raden karena dianggap sebagai anak sendiri oleh Cokrosunaryo. Sejak kecil ia dididik dengan sangat baik oleh orang tua angkatnya itu. Ia disekolahkan hingga menjadi pemuda yang sangat cerdas.

Soedirman saat masih kanak-kanak. (Foto: Mengikuti Jejak Panglima Besar)

Dari kecil hingga berumur 18 tahun, Jenderal Soedirman tidak pernah diberitahu siapa orang tua aslinya. Ia hanya tahu jika Cokrosunaryo adalah ayah yang menyayanginya dengan tulus.

Setelah mengetahui fakta ini, Jenderal Soedirman akhirnya diperkenankan untuk hidup lagi dengan keluarganya meski pada akhirnya ia lebih aktif dalam belajar setelah sang ayah asli meninggal dunia.

 

Seorang Kepala Sekolah

Jenderal Soedirman pernah menjadi seorang guru. Ia mengajarkan murid-muridnya pelajaran moral dengan menggunakan contoh dari kehidupan para rasul dan kisah wayang tradisional. Ia dikenal sebagai sosok guru yang adil dan sabar yang akan mencampurkan humor dan nasionalisme dalam pelajarannya. Hal ini membuatnya populer di kalangan muridnya.

 

Meskipun bergaji kecil, Soedirman tetap mengajar dengan giat. Akibatnya, dalam beberapa tahun Soedirman diangkat menjadi kepala sekolah meskipun tidak memiliki ijazah guru.

Sebagai hasilnya, gaji bulanannya meningkat empat kali lipat dari tiga gulden menjadi dua belas setengah gulden. Sebagai kepala sekolah, Soedirman mengerjakan berbagai tugas-tugas administrasi, termasuk mencari jalan tengah di antara guru yang berseteru.

Seorang rekan kerjanya mengisahkan bahwa Soedirman adalah seorang pemimpin yang moderat dan demokratis. Dia juga aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun untuk pembangunan lainnya.

 

Panggilan Dinda dari Soekarno

Soekarno dan Soedirman adalah Sahabat yang sangat dekat. Soekarno memanggil Soedirman dengan sebutan Dinda karena 15 tahun lebih tua, sementara Soedirman memanggil Soekarno sebagai Kanda. Seperti yang tertulis dalam surat berikut, “Kanda doakan kepada Tuhan, moga-moga Dinda segera sembuh…” yang ditulis Soekarno sebulan sebelum Soedirman wafat pada 29 Januari 1950.

 

Setelah wafat, Soekarno menempatkan sahabatnya itu sebagi ikon sejarah. Ketika membangun sebuah jalan baru yang besar dan lebar tahun 1962 untuk akses ke pinggiran kota menuju sebuah stadion baru termegah di dunia saat itu, Soekarno menamakan jalan tersebut Jalan Jenderal Soedirman.

 

Pernah Berwudhu dengan Embun saat Perang Gerilya

Menurut pengakuan mantan Pengawal Jenderal Soedirman, Mayor (Purn) Abu Arifin, Jenderal Soedirman adalah sosok yang begitu mengagumkan dan taat beragama.

 

Di tengah hutan, kerap kali mereka sulit menemukan mata air. Padahal, untuk bersalat, Jenderal Soedirman butuh berwudhu. Maka, dalam berbagai kesempatan, sang Jenderal berwudhu dengan embun yang menempel di dedaunan.

Tiap waktu salat tiba, Jenderal Soedirman selalu bersalat. Kesaksian Abu Arifin, tak sekali pun Jenderal Soedirman meninggalkan salat lima waktu.

 

Banyak yang menganggap Jenderal Soedirman sakti lantaran selalu lolos dari sergapan Belanda. Tetapi, bagi Arifin, Tuhan lah yang melindungi sang Jenderal.

Nama besar Panglima Soedirman tentu tak asing lagi di telinga masyarakat. Seorang pahlawan bangsa yang terkenal dengan perang gerilya, pantang menyerah walau dalam keadaan sakit parah. Namun demikian bagaimana sebenarnya sosok Panglima Soedirman dalam kehidupan keseharian khususnya dalam kehidupan rumah tangganya belum banyak diketahui masyarakat luas. Nah, buku ini hendak mengangkat sisi lain kehidupan Panglima Soedirman, kisah-kisah romantis kehidupan berkeluarga beliau yang dikemas sangat apik oleh penulis buku ini.

Beragam dialog antara Pak Dirman sebutan untuk Panglima Besar Soedirman dan Bu Alfiah istri beliau, ditampilkan dengan menarik dan enak dibaca. Dari sini tergambar bahwa mereka mencerminkan sebuah rumah tangga yang saling berbagi peran sesuai dengan kodratnya masing-masing. Penulis mampu memceritakan dalam sebuah novel biografi. Novel ini serasa hidup meski sangat kuat  bersumber dari fakta-fakta sejarah. Tentu fakta sejarah memiliki bobot yang beragam. Penulis mampu meramunya menjadi sebuah rangkaian cerita yang utuh.

 

 

Romantika kehidupan Pak Dirman dan Bu Alfiah memberikan banyak pelajaran dan teladan bagi banyak orang. Pak Dirman sebagai sosok yang tegas, tekad kuat dan pantang menyerah. Bu Alfiah sebagai seorang perempuan yang sabar dan telaten. Kombinasi dari sosok Pak Dirman dan Bu Alfiah melahirkan perpaduan  sikap hidup yang saling pengertian dan menanggung beban bersama. Dan pemahaman mereka akan agamanya tercermin ketika memperlakukan perempuan sebagai istri atau laki-laki sebagai suami dan mendidik putra-putri buah kasih sayangnya dengan perhatian penuh kasih sayang. Di sinilah keharmonisan muncul, dan itu menjadi modal dalam membangun kehidupan  rumah tangga, berbangsa dan bernegara  yang kuat.

 

 

Bu Alfiah sebagai  model perempuan Jawa yang dikiaskan dengan lima jari seperti dalam Kitab Serat Centini. Jempol atau pol ing tias, seorang istri harus berserah diri sepenuhnya kepada suami.  Telunjuk atau penuduh, seorang istri jangan sekali-kali berani membantah thudung kakung. Jari tengah atau penuggal, seorang istri harus selalu menunggalkan suami dan menjaga martabat suami. Jari manis mengiaskan, istri harus tetap manis air mukanya dalam melayani suami. Jelentik atau kelingking mengiaskan athak ithikan, terampil dan banyak akal  dalam melayani suami.

 

 

Seorang Pak Dirman atau dengan nama samaran  Kiai Lelonobroto juga seorang manusia yang memiliki warna-warni kehidupan. Beliau bercengekerama dengan anak-anaknya, dengan istrinya, dengan adiknya, dengan prajuritnya, dengan rakyatnya,  dengan segala kejenakaan dan ketegasannya menjadi pemandangan yang menarik dan indah dalam novel ini, kehidupan rumah tangga Pak Dirman dan Bu Alfiyah. Kehidupan berumah tangga  dengan berbagai cobaan di masa perang kemerdekaan dan sempat tidak direstui oleh keluarga besar Alfiyah. Cinta Pak Dirman – Bu Alfiyah mulai tumbuh sejak sama-sama sekolah di Wiworotomo, saat Pak Dirman menjadi sekretaris himpunan siswa, dan Bu Alfiah, bendaharanya.

 

Bu Alfiyah sesungguhnya juga orang yang sangat sederhana meskipun dari keluarga berada. Ia mau hidup susah dan senang ditanggung bersama. Seperti ucapan Pak Dirman, “Siap hidup sengsara bukan berarti akan disengsarakan. Siap hidup sengsara, artinya menyediakan kesiapan mental ketika benar-benar menghadapi ketidakberuntungan dalam hidup”.

 

 

Sekelumit dari dialog pak Dirman yang menggambarkan tekadnya yang kuat, tidak menutupi aura romantikanya dalam menjalankan kehidupan berumah tangga bersama Bu Alfiyah. Misalnya saat Pak Dirman membelikan bedak buat bu Alfiyah, dalam penggalan dialog ini.

“Apa yang bapak bawa?” tanya Alfiah waktu itu. “Baju dan bedak, Bu. Soalnya kalau ada serangan udara, semua toko bakal tutup,” ujar Sudirman seraya membuka bungkusan. Diserahkannya baju dan berkotak-kotak bedak itu. Alfiah tercengang dibuatnya. Kaget campur senang. “Buat apa bedak sebanyak itu?” “Biar bagaimanapun, Ibu harus tetap terlihat cantik,” terang Sudirman. “Tapi satu dus saja bisa untuk sebulan lebih, Pak,” ujar Alfiah, seraya menyeka sudut matanya. Terharu juga dengan apa yang telah dilakukan suaminya. Dalam keadaan serba sulit, ia masih memperhatikan keperluan sang istri. Selain bedak, Sudirman juga membelikan baju. Dipeluknya baju itu. Tercium wangi baju baru. Untuk beberapa saat, Alfiah hanya bisa terdiam. Kehabisan kata-kata. Ketika Sudirman mengusap pipinya, pertahanan itu jebol. Alfiah tak kuasa untuk tidak menitikan air mata. Sudirman memeluknya. “Kau senang, Bu?” tanyanya. Alfiah tak menjawab, hanya mengangguk. Tangannya sibuk menyeka air mata.

 

 

“Juga menganugerahi kita anak-anak. Lalu, kau menghabiskan seluruh waktu untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga. Penghargaan apa yang sepantasnya kau terima? Tetapi kalaupun ada, tampaknya aku tak akan sanggup mengabulkannya.” “Aku menghabiskan seluruh waktu untuk anak-anak dan rumah tangga, tetapi bapak menghabiskan seluruh waktu untuk bangsa dan negara. Maka, kalaupun ada penghargaan yang aku terima, aku akan serahkan penghargaan itu kepadamu, Pak. Sebab tugas dan tanggung jawab bapak jauh melampaui kemampuan bapak sendiri. Aku masih bisa istirahat di antara waktu anak-anak istirahat, tetapi bapak hampir tak bisa istirahat di antara waktu para prajurit istirahat,” sambung Alfiah.

Begitupun saat Pak Dirman memberikan perhatian yang kecil tetapi maknanya besar. Seperti terlihat dalam dialog ini.  “Matur nuwun, Mas, aku suka sekali,” batinnya. Lalu tangannya refleks mengusap rambut ikalnya. Sekarang ia tak pernah memakai jepit lagi. Tetapi benda penuh kenangan itu selalu disimpannya rapih di dalam lemari, serapih ia menyimpan kenangan di hatinya. Kelak, kepada anak perempuannya, jepit itu akan dihadiahkan pada saat-saat istimewa. Tentu bukan nilai barangnya yang dihadiahkan, melainkan lengkap dengan nilai kenangan yang terkandung di dalamnya. Dua anak perempuannya sekarang telah lahir, entah kepada siapa jepit pemberian Sudirman itu pertama kali akan dihadiahkannya. Sungguh sosok Siti Alfiah adalah potret istri bersahaja, mengabdi dengan ikhlas kepada suaminya, memiliki kemampuan untuk menghargai sekecil apa pun dari apa yang telah diberikan suaminya. “Kebahagiaan membuatmu tetap manis, cobaan membuatmu kuat, kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia, kegagalan membuatmu tetap rendah hati.” Ungkapan itu telah diwujudkan semasa gerilya-saat Sudirman sakit-Alfiah mendukung lahir batin dan merelakan seluruh perhiasan pemberian orangtuanya untuk bekal sang suami di medan gerilya.

Pak Dirman pejuang yang menyerahkan jiwa raganya untuk bangsa dan negaranya dengan tetap memperhatikan dan menyayangi dengan sepenuh hati isteri dan ketujuh anaknya, Ahmad Tidarwono, Taufik Effendi, Didi Prapti Astuti, Didi Suciati, Pujiati, Titi Wahyuni, dan Mohammad Teguh. Perjuangannya telah memenuhi titik puncak hingga pada dialog ini. “Aku merasa bangga, Bu. Bangga sekali setiap merenungkan perjalanan hidupku, sejak kecil sampai aku menikahimu. Gusti Allah selalu memberikan jalan yang sederhana. Coba kau bayangkan, aku bisa dekat dengan alam, dengan anak-anak, dengan prajurit, dan dengan rakyat. Dari merekalah aku menemukan pikiran-pikiran yang sederhana. Dalam rasa senang dan kesederhanaan itu, aku merasa kok rasa-rasanya tugasku sudah selesai.”

 

 

Kader Muhammadiyah ini berhasil menyelamatkan martabat negeri. Berhasil mengusir berbagai ancaman dan bahaya buat negeri walaupun tidak berhasil mengusir penyakit TBC yang dideritanya. Keberhasilannya mendesak Belanda hengkang dari bumi Indonesia, diiringi dengan kehidupannya yang kembali ke pangkuan Ilahi.

 

 

Perjalanan gerilya Jenderal Sudirman sudah demikian melegenda. Sosok Jenderal Sudirman saat kembali ke Yogyakarta, pada Juli 1949, dengan mengenakan jaket panjang dan ikat kepala (blangkon), telah menjadi dokumen ikonik. Entah sudah berapa monumen yang dibangun berdasar model Sudirman dengan pakaian bersahaja seperti itu.

 

 

Perjalanan gerilya Sudirman memakan waktu lebih dari enam bulan, dan melibatkan sejumlah besar prajurit yang mengawal Sudirman, dengan tugas masing-masing. Dalam dokumen yang selama ini dikenal publik, baik teks maupun visual (termasuk film), nama pengawal yang paling populer adalah (dengan pangkat saat peristiwa) Kapten Suparjo Rustam dan Mayor Tjokropranolo. Sementara nama-nama pengawal lain, nyaris tidak dikenal, dan akhirnya dilupakan begitu saja.

 

 

Letkol Suadi

Salah satu tokoh penting dimaksud adalah Letkol Suadi Suromihardjo. Dalam foto dokumentasi, sosok Suadi bisa dikenali dengan baret hitam dan senapan M1 Carbine, yang selalu terpasang di dadanya. Posisinya (secara fisik) tidak pernah jauh dari Jenderal Sudirman, itu sesuai dengan jabatannya, sebagai Komandan Pasukan Pengawal Panglima Besar Sudirman. Dari segi hirarki (dan juga pangkat), Suparjo Rustam dan Tjokropranolo berada di bawah Suadi.

 

 

Saat kembali ke Yogya dari perjalanan gerilya (Juli 1949) Pak Dirman disambut upacara kehormatan pasukan TNI. Di panggung kehormatan, seperti yang terlihat dalam foto yang beredar selama ini, Pak Dirman menerima defile, bersama beberapa tokoh lain, salah satunya  adalah Suadi dengan tampilan khasnya. Dalam foto klasik yang mengabadikan peristiwa tersebut, Suadi berada satu frame dengan Pak Dirman, Sjafrudin Prawiranegara (Perdana Menteri “darurat”), Letkol Soeharto (Komandan Brigade di Yogya, kemudian Presiden RI), dan Kapten Suparjo Rustam (ajudan Pak Dirman, kelak menjabat Mendagri).

 

 

Usai Pak Dirman meninggal, Suadi melanjutkan karier militer dengan lancar, dan boleh dibilang sangat istimewa. Suadi sempat mengikuti pendidikan di dua lembaga bergengsi: Seskoad di AS (Fort Leavenworth) dan Staff College, Quetta, Pakistan. Berdasarkan rekam jejak pendidikan seperti inilah, Suadi dipercaya oleh KSAD Jenderal A.H. Nasution untuk menjabat Komandan Seskoad di Bandung (1959-1961). Suadi juga sempat menjadi Komandan Kontingen Garuda I, pasukan perdamaian di bawah payung PBB. Pasukan Garuda di bawah Suadi saat itu ditugaskan ke Mesir (1957) setelah Presiden Nasser menasionalisasi Terusan Suez. Karier Suadi mulai suram ketika Soeharto berkuasa sekitar 1965-1966.

 

 

Ketika berkuasa, Soeharto secara halus menyingkirkan Suadi.   Selain pada foto yang disebut pada awal tulisan, setidaknya ada dua perjumpaan penting lain antara keduanya. Pertama ketika Suadi mendampingi Soeharto dalam memonitor kondisi pasca-Peristiwa Madiun, sekitar tanggal 19 atau 20 September 1948. Soeharto turun langsung ke lapangan berdasarkan perintah Jenderal Sudirman. Kedua saat Suadi menjadi Komandan Seskoad, Brigjen Soeharto memperoleh kesempatan mengikuti Kursus C di lembaga tersebut.

 

 

Sejarah resmi Indonesia menghapus nama Letkol Suadi karena ia dianggap perwira “Kiri”, sehubungan dengan Peristiwa Madiun 1948.  Tuduhan “Kiri” terhadap Suadi  seharusnya gugur,  ketika dirinya ditarik menjadi Komandan Pasukan Kawal  Panglima Sudirman selama gerilya. Jika benar Suadi adalah simpatisan FDR, bagaimana mungkin Pak Dirman merekrut seorang perwira yang dianggap terlibat pemberontakan terhadap pemerintah yang sah? Seandainya tak dipercaya Pak Dirman, tentu Suadi tidak dilibatkan dalam perjalanan gerilya.

 

 

Hipotesis yang mungkin bisa diajukan adalah, Soeharto ingin selalu dominan dalam banyak hal, termasuk dalam soal pencitraan, siapa yang paling dekat dengan Sudirman. Secara singkat bisa dikatakan, bahwa hanya dirinya yang bisa disebut perwira yang paling dekat dengan Sudirman, bukan Suadi.

 

 

Melepas karier militer

Dari penelusuran penulis, setidaknya ada dua nama (pengawal) lagi yang namanya seperti hilang dari catatan sejarah, yakni Utoyo Kolopaking dan Bambang Sumadio. Kasusnya sedikit berbeda dengan Letkol Suadi, yang memang ada rekayasa sistemik dari Soeharto. Utoyo Kolopaking dan Bambang Sumadio  “menghilang” secara alamiah, sebab mereka dengan sengaja meninggalkan dunia militer selepas periode perang kemerdekaan, dengan memasuki perguruan tinggi umum, yakni Universitas Indonesia (UI). Utoyo menempuh pendidikan di fakultas hukum, dan Bambang Sumadio memilih jurusan purbakala (kini arkeologi).

 

 

Saat mengikuti perjalanan gerilya, Utoyo masih berstatus sebagai taruna tahun terakhir pada MA (Akademi Militer) Yogya angkatan kedua. Angkatan pertama sudah dilantik sebagai perwira remaja pada November 1948, beberapa saat sebelum serbuan tentara Belanda pada Clash II, 19 Desember 1948. Bersamaan dengan berakhirnya Perang Kemerdekaan, taruna MA angkatan kedua, kemudian dilantik juga sebagai perwira muda (letnan dua), termasuk Utoyo Kolopaking.

Namun ketika ada kesempatan untuk masuk perguruan tinggi umum, Utoyo Kolopaking rela melepas statusnya sebagai perwira, untuk masuk Fakultas Hukum UI. Utoyo kemudian mengabdi di almamaternya sebagai salah seorang dosen di FHUI.

 

 

Demikian juga dengan Bambang Sumadio, yang saat mengawal Pak Dirman berpangkat sersan. Selepas lulus dari jurusan purbakala UI, pada pertengahan tahun 1950-an, Bambang juga mengabdi sebagai dosen pada Jurusan Arkeologi UI sampai tahun 1980-an. Bambang sempat juga ditugaskan sebagai Kepala Dinas Purbakala, serta Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Belanda.

Utoyo dan Bambang seolah memiliki identitas baru. Bagi yang baru mengenalnya belakangan, atau bagi para kolega di kampus (termasuk para mahasiswa), bisa jadi tidak pernah menyangka, bahwa mereka pernah mendampingi Jenderal Sudirman dalam perjalanan gerilya yang sangat monumental itu.

 

 

Pada tahun-tahun awal kemerdekaan, tampaknya prosedur alih status tidak terlalu rumit, sehingga mudah saja bagi mereka yang ingin meninggalkan karier militer. Dua orang perwira muda ranking atas lulusan MA Yogya (angkatan pertama), yakni Soebroto dan Kun Suryoatmojo, termasuk yang memilih meninggalkan karier militer. Soebroto masuk fakultas ekonomi pada sebuah universitas di Belanda, dan kemudian dikenal sebagai teknokrat di masa awal Orde Baru, dan beberapa kali menjadi menteri. Sementara Kun Suryoatmojo meniti karier pada sebuah lembaga riset yang sangat bergengsi, yaitu NASA.

 

 

Kehendak zaman

Selalu ada yang linier dalam sejarah, apa yang terjadi , rasanya mirip dengan yang terjadi sekarang, bahwa karier di dunia militer hanyalah salah satu pilihan. Bandingkan dengan masa Orde Baru, begitu kuatnya citra militer, sehingga banyak remaja lulusan SMA, ingin masuk Akmil, atau akademi kedinasan yang lain yang sejenis.

 

 

Pada masa Orde Baru, seorang perwira lulusan Akmil, bisa berprofesi apa pun, yang terkadang pada jabatan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kompetensinya, selaku lulusan Akmil. Tentu saja hal itu bisa terjadi, karena ada dorongan politik, ketika rezim Soeharto memberi ruang seluas-luasnya bagi perwira.

Oleh karena itu, bagi perwira masa sekarang, harus pandai-pandai pula memanfaatkan waktu luang, untuk menambah pengetahuan. Lebih ideal lagi bila memiliki kompetensi lain, di samping teknis kemiliteran. Sebagai antisipasi seandainya kariernya kurang berkembang di TNI. Mengingat perkembangan di luar lingkungan militer, juga berjalan cepat. Anak muda generasi milenial terkenal sangat cerdas dan kreatif, dan satu yang pasti, tidak lagi terpesona pada karier militer.

Sebagaimana dibahas di atas, ketika pemuda seperti Soebroto, Utoyo Kolopaking, Bambang Sumadio, Nugroho Notosusanto, dan seterusnya, rela meninggalkan karier militernya, dengan mencari alternatif karier  di bidang lain, sekaligus memperluas cakrawala. Memang kemudian ada yang masuk kembali ke dunia militer, seperti Nugroho Notosusanto, dengan menjadi Kepala Pusat Sejarah ABRI (sekarang TNI), dengan pangkat Brigjen (tituler). Namun citra Nugroho sebenarnya  lebih  sebagai intelektual atau konseptor, bukan tipikal tentara operasional yang kita kenal selama ini.

 

 

Secara umum bisa dikatakan, sejatinya sebuah profesi memiliki eranya sendiri. Ada masanya profesi sebagai tentara demikian mempesona, dan kemudian memudar, dan bisa jadi kelak bisa pasang kembali. Sebagaimana kehidupan manusia pada umumnya, senantiasa ada pasang-surutnya.

Sejak masih bayi, Soedirman telah diambil sebagai anak oleh pamannya R. Tjokrosunaryo yang menjadi Asisten Wedana (Camat) di Rembang. Setelah pensiun mereka kemudian menetap di Cilacap. Dalam usia tujuh tahun Soedirman memasuki HIS (Holiandsch Inlandsche School = Sekolah Dasar) Negeri di Cilacap. Dalam kehidupan yang sederhana Tjokrosunaryo mendidik Soedirman agar menjadi anak yang disiplin. Kepada Soedirman diajarkan cara-cara menepati waktu belajar dan menggunakan uang saku sebaik-baiknya. Ia harus bisa membagi waktu antara belajar, bermain dan mengaji. Soedirman juga dididik dalam hal sopan santun Jawa yang tradisional oleh ibu Tjokrosunaryo.

 

 

Soedirman juga aktif membina Badan Pengurus Makanan Rakyat. Badan ini bergerak di bidang pengumpulan bahan makanan untuk menghindarkan rakyat Cilacap dari bahaya kelaparan. Kecakapan dan kejujuran Soedirman itu membawanya kejenjang yang lebih tinggi, yaitu diangkat menjadi anggota Syu Sangikai (semacam dewan perwakilan karesidenan) Banyumas. Di samping itu ia juga ditunjuk sebagai anggota Hokokai Karesidenan Banyumas.

 

 

Pada pertengahan tahun 1943 Jepang mulai terdesak oleh Sekutu, sehingga berusaha mencari siasat lain. Dalam bulan Oktober 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan tentara Pembela Tanah Air (Peta). Pak Dirman mengikuti latihan Peta angkatan kedua di Bogor. Setelah selesai ia diangkat menjadi Daidanco (komandan batalyon) berkedudukan di Kroya, Banyumas. Di sana Soedirman memulai riwayatnya sebagai seorang militer. Sebagai komandan, Soedirman sangat dicintai oleh para bawahannya, karena ia sangat memperhatikan kesejahteraan prajuritnya. Untuk itu ia tidak segan-segan untuk bersitegang dengan opsir-opsir Jepang. Karena, itu Soedirman dicurigai.

 

 

 

Pada bulan Juli 1945,  Soedirman dengan beberapa orang Perwira Peta yang dianggap “berbahaya” dibawa ke Bogor. Sebagai alasan dikatakan bahwa mereka akan mendapat latihan lanjutan dari opsir-opsir Jepang. Tetapi sebenarnya Jepang berniat untuk membunuhnya. Namun rencana tersebut tidak terlaksana, karena tanggal 14 Agustus 1945 Jepang sudah menyerah kepada Sekutu. Sesudah itu Soedirman kembali lagi ke Banyumas.

 

 

 

Soedirman tetap di Banyumas ketika proklamasi dikumandangkan.  Tanggal 18 Agustus 1945 Peta dibubarkan oleh Jepang. Senjata dilucuti dan mereka pulang ke kampung halaman masing-masing. Dengan dibantu oleh beberapa kawannya, Soedirman berusaha mengumpulkan mereka kembali. Mereka menghimpun kekuatan dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk Pemerintah pada tanggal 23 Agustus 1945. Soedirman terpilih menjadi Ketua BKR Karesidenan Banyumas. Dengan dibantu Residen Banyumas Mr. Iskak Tjokrohadisuryo dan beberapa tokoh lainnya, dimulailah perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan diadakan perundingan dengan komandan tentara Jepang di Banyumas. Dari hasil perundingan itu BKR Banyumas memperoleh senjata yang cukup banyak, bahkan merupakan kesatuan yang terlengkap memiliki senjata pada waktu itu. Pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah mengeluarkan Maklumat No. 2/X/45 yang berisi tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Maka BKR pun meleburkan diri ke dalamnya. Soedirman dipilih menjadi Komandan Resimen I Divisi I TKR dan kemudian diangkat menjadi Komandan Divisi V di Banyumas.

 

 

 

Soeprijadi, mantan pemimpin pemberontakan PETA di Blitar diangkat sebagai pimpinan Tertinggi TKR. Namun ternyata Soepriyadi tidak pernah muncul menduduki jabatannya itu. sehingga untuk mengisi kekosongan jabatan itu, atas prakarsa Kepala Staf Umum TKR Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo pada tanggal 12 Nopember 1945 diadakan “Konferensi”  TKR di Markas Tertinggi TKR di Yogyakarta untuk memilih pimpinan baru. Konferensi itu dihadiri oleh komandan-komandan Divisi dan Resimen di Jawa. Dalam konferensi itu Komandan Divisi V Kolonel Soedirman, dipilih sebagai Pimpinan Tertinggi TKR (Panglima Besar), dan Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf Umum TKR. Bersamaan dengan itu, sebagai Komandan Divisi, Soedirman harus menghadapi ancaman pihak sekutu di Magelang dan Ambarawa. Dalam serangan yang dilancarkan ke Ambarawa tanggal 12 Desember 1945 TKR berhasil memukul mundur sekutu. Pertempuran di Ambarawa berakhir tanggal 15 Desember 1945 dan diperingati sebagai Hari Infanteri. Pada tanggal 18 Desember 1945 Presiden Soekarno melantik Kolonel Soedirman sebagai Panglima Besar TKR dengan pangkat Jenderal.

 

 

 

Langkah awal Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar, dalam bulan Desember itu juga mengadakan rapat pimpinan TKR meninjau kembali organisasi TKR. Pada tanggal 1 Januari 1946 nama Tentara Keamanan Rakyat diganti menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Pada tanggal 24 Januari 1946 nama tersebut diganti lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

 

 

 

Untuk menyempurnakan organisasi tentara, maka pada bulan Maret 1946, Pemerintah membentuk Panitia Besar Reorganisasi Tentara. Pada bulan Mei 1946, Panitia menyampaikan hasil kerjanya. Jumlah divisi dikurangi dan organisasinya disederhanakan. Tanggal 25 Mei 1946 Jenderal Soedirman sekali lagi dikukuhkan sebagai Panglima Besar. Di hadapaan Presiden, Soedirman yang didampingi oleh anggota stafnya mengucapkan sumpah :

 

 

  1. Sanggup mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara Republik Indonesia yang telah diproklamirkan pada tangggl 17 Agustus 1945.
  2. Sanggup taat dan tunduk pada Pemerintah Negara Republik Indonesia yang menjalankan kewajiban menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannya.

 

 

Banyak permasalahan yang dihadapi Soedirman sebagai seorang Panglima Besar. Di samping TRI sebagai tentara resmi, terdapat laskar-laskar yang dibentuk oleh golongan atau partai politik tertentu. Hubungan kedua alat pertahanan tersebut tidak selalu harmonis, sehingga perlu dipersatukan dalam satu wadah. Hal ini terlaksana ketika bulan Mei 1947 Pemerintah mengumumkan tentang pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). selambat-lambatnya tanggal 3 Juni 1947 organisasi baru ini sudah harus terwujud dan sejak saat itu negara hanya akan mempunyai sebuah tentara. Hal itu berarti laskar harus bergabung ke dalam TNI. Pak Dirman yang teguh pendiriannya bahwa “satu Negara hanya ada satu Tentara”  bekerja keras untuk menyatukan semua kekuatan nasional itu.

 

 

Beda pendapat dengan Pemerintah seringkali dialami oleh Pak Dirman. Sebagai militer, ia ingin menyelesaikan pertentangan dengan Belanda melalui cara-cara militer. Tetapi Pemerintah cenderung menempuh cara diplomasi. Cara diplomasi yang ditempuh pemerintah melahirkan Perjanjian Linggajati, yang tidak menyelesaikan masalah, malahan sebaliknya merupakan pembuka jalan bagi

 

 

Belanda untuk melancarkan agresi militernya (21 Juli 1947).

Walaupun kedudukan TNI terdesak karena kalah dalam bidang persenjataan, namun TNI terus melawan Belanda di berbagai daerah. Mereka melakukan konsolidasi di pedalaman. Setelah perjanjian Renville wilayah RI bertambah susut. Angkatan Perang terpaksa menyerahkan daerah-daerah kantong yang strategis kepada Belanda dan pindah ke daerah RI yang cukup padat dan minus. Berbagai peristiwa politik terjadi di dalam negeri. Bekas Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin membentuk golongan oposisi menentang Pemerintah Hatta dan pelaksanaan rekonstruksi dan rasionalisasi Angkatan Perang. Kekuatan oposisi ini bertambah kuat setelah Musso, seorang komunis tiba kembali dari Uni Sovyet. Kerusuhan terjadi di Solo antara pasukan Siliwangi yang hijrah ke daerah itu dengan pasukan Panembahan Senopati. Dalam keadaan demikian diperlukan kewibawaan Panglima Besar Soedirman untuk menyelesaikannya.

 

 

Sementara itu pada tanggal 18 September 1948 Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dipimpin Amir Syarifuddin, Musso dan kawan-kawannya melancarkan pemberontakan Madiun. Ketika itu Pak Dirman terpaksa tinggal dirumah setelah beberapa waktu sebelumnya menjalani operasi. Sebuah paru-parunya tidak berfungsi lagi. Namun demikian pemberontakan Madiun tersebut dapat dipadamkan dalam waktu singkat.

 

 

 

Pada tanggal 18 Desember 1948 Jenderal Soedirman kembali memegang pimpinan atas seluruh Angkatan Perang setelah menderita sakit beberapa waktu lamanya. Sehari setelah itu, yakni tanggal 19 Desember 1948 Belanda menerjunkan pasukan Para di Bandar Udara Maguwo (sekarang Adi Sucipto) Yogyakarta, kemudian bergerak menuju ibukota dan mulailah Agresi Militer II Belanda

 

 

 

Dalam keadaan masih sakit, Pang1ima Besar Soedirman berangkat ke Istana untuk menerima instruksi dari Presiden. Di istana pada waktu i tu sedang berlangsung sidang kabinet. Presiden menasehatkan agar Pak Dirman kembali ke rumah karena masih sakit. Namun, nasehat itu tidak dipenuhi. Pak Dirman menunggu keputusan Pemerintah sambil menyusun perintah untuk seluruh anggota Angkatan Perang. Perintah yang disiarkan juga oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta itu pada pokoknya berbunyi : “Semua Angkatan Perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Be1anda”.

 

 

 

Keputusan pemerintah untuk tetap tinggal di dalam kota dan ajakan Presiden agar Jenderal Soedirman juga tetap tinggal di dalam kota, sangat di luar dugaannya. Panglima Besar hanya menjawab : “Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah”. Saya akan meneruskan perjuangan gerilya dengan sekuat tenaga seluruh prajurit.

 

 

 

Pada hari itu juga Jenderal Soedirman meninggalkan Yogya dan mulai perjalanan gerilya yang berlangsung kurang lebih tujuh bulan lamanya. Dengan ditandu, pak Dirman melakukan perjalanan naik gunung turun gunung, masuk ke luar hutan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Obat-obatan pun sulit diperoleh pada waktu itu. Tak jarang Panglima Besar itu terpaksa kekurangan makanan selama beberapa hari. Kesukaran itu bertambah karena Belanda selalu berusaha untuk menangkapnya.

 

 

 

Setelah perjalanan ke luar masuk hutan dan terhindar dari serangan Belanda, mulai tanggal 1 April 1949 Jenderal Soedirman menetap di desa Sobo, Solo, Jawa Tengah. Di tempat ini keadaan mulai agak teratur dan dapat mengadakan hubungan dengan pejabat pemerintah di Yogya melalui kurir. Selama bergerilya, Panglima Besar tetap mengeluarkan perintah-perintah harian yang isinya antara lain amanat baik untuk Angkatan Perang maupun rakyat pada umumnya.

 

 

Perang gerilya yang dilancarkan TNI dengan rakyat, akhirnya berhasil mematahkan Belanda. Pada tanggal 1 Maret 1949 dilancarkan serangan umum ke Yogyakarta dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, yang merupakan titik balik bagi kemenangan TNI. Belanda kemudian mengajak berunding. Tanggal 7 Mei 1949 Roem-Royen Statement ditandatangani. Dengan dasar perjanjian itu, akhir Juni 1949 Presiden, Wakil Presiden dan pejabat-pejabat pemerintah yang dulunya ditawan Belanda di Pulau Bangka, dikembalikan ke Yogyakarta.

 

 

Jenderal Soedirman diminta pula kembali ke Yogya. Perundingan mengenai kedudukan Angkatan Perang tidak mungkin diadakan tanpa hadirnya Panglima Besar di ibukota. Tetapi Soedirrnan keberatan kembali karena ia tidak setya dengan perundingan yang ditempuh oleh pemerintah justru pada saat Angkatan Perang berada dalam posisi yang kuat. Beberapa kali utusan dikirim Pemerintah ke Sabo, namun tidak berhasil melunakkan pendiriannya. Akhirnya Pemerintah meminta jasa baik Kolonel Gatot Subroto. Hubungan pribadi kedua tokoh ini cukup baik. Jenderal Soedirman sangat menghargainya sebagai saudara tua walaupun pangkatnya lebih rendah. Akhirnya tanggal 10 Juli 1949 Panglima Besar dan rombongan kembali ke Yogya. Di sepanjang jalan rakyat berjejal-jejal menyambutnya. Mereka ingin melihat wajah Panglima Besarnya yang lebih suka memilih medan gerilya daripada beristirahat di tempat tidur. Kedatangan Panglima Besar disambut dengan Parade militer di alun-alun Yogyakarta diliputi suasana haru. Mereka yang selama bergerilya terkenal berani, tak urung meneteskan air mata setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan fisik Panglima Besar mereka yang pucat dan kurus. Rasa haru dan kagum bercampur menjadi satu.

 

 

Selama bergerilya kesehatan Saedirman menurun. Beberapa kali ia jatuh pingsan. Setelah di Yogyakarta, kesehatan Jenderal Soedirman diperiksa kembali. Ternyata, paru-paru yang sebelah !agi sudah terserang penyakit. Karena itu Panglima Besar Soedirman harus beristirahat di rumah sakit. Semua perundingan yang memerlukan kehadiran Soedirman dilakukan di rumah sakit. Rasa tidak senang terhadap cara diplomasi yang ditempuh Pemerintah dalam menghadapi Belanda masih membekas di hati Jenderal Soedirman. Tanggal 1 Agustus 1949, ia menulis surat kepada Presiden Soekarno, berisi permohonan untuk meletakkan jabatan sebagai Panglima Besar dan mengundurkan diri dari dinas ketentaraan. Namun surat tersebut tidak jadi disampaikan. Sementara itu kesehatan Panglima Besar semakin memburuk, sehingga ia harus beristirahat di Pesanggrahan Militer di Magelang. Siang hari tanggal 29 Januari 1950 Panglima Besar masih sempat memeriksa rapor sekolah anak-anaknya. Tetapi ia belum sempat menanda tanganinya, ketika sakit yang hebat Jenderal Soedirman, Panglima Besar Angkatan Perang RI, meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan esok harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta, di samping makam Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo.

 

 

Sesuai dengan jasa dan pengabdiannya, Pemerintah menaikkan pangkatnya dari Letnan Jenderal menjadi Jenderal Anumerta (akibat rasionalisasi tahun 1948 pangkat Soedirman turun setingkat menjadi Letnan Jenderal). Di samping itu pemerintah juga memberikan penghargaan tertinggi berupa gelar Pahlawan Nasional, pada tanggal 20 Mei 1970. Dalam sejarah kehidupan ABRI, Soedirman tercatat sebagai Bapak ABRI. Namun yang lebih membanggakan adalah Pak Dirman yang berasal dari rakyat kecil, telah memperoleh tempat terhormat di hati bangsa Indonesia yang mencintainya.

 

 

 

Pada tanggal 30 September 1997, ia dianugerahi Pangkat Kehormatan Jenderal Besar TNI. Penganugerahan Pangkat Kehormatan Jenderal Besar atau Jenderal Berbintang Lima ini merupakan peristiwa yang istimewa, karena pangkat ini hanya dianugerahi kepada prajurit yang berjasa sangat luar biasa kepada bangsa dan negara.

Penulis : Haraka

Editor : Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.