(Tanpa) Batas untuk Berkarya di Tanah Sendiri

0
104

Oknews.co.id – Magelang, Manusia merupakan makhluk yang memiliki ‘perasaan’, dalam mengutarakannya tentu dibutuhkan yang namanya ‘media’. Bisa dengana cara bernyayi, puisi, menggambar, dan masih banyak lagi. Nyanyian merupakan suatu media yang setiap waktu pasti kita temui, entah ketika di mall, sekolah, hingga angkringan. Namun, negeri kita ini sedang menyusun ‘standar-standar’ mengenai bagaimana kita berekspresi. “Lho, berekspresi kok diatur?”

Seperti yang kita tahu, beberapa saat lalu para pelaku musik di negeri kita sedang geger dengan adanya RUU Permusikan. Tentu banyak yang menolak dan tidak sedikit pula yang menerima dengan munculnya hal ini. Akhirnya, sekitar 267 pelaku musik dari berbagai kota di tanah air menolak dengan adanya RUU Permusikan ini. Bagi mereka, hal tersebut telah membatasi mereka dalam berkarya. “Kami tetap mendukung upaya menyejahterakan musisi dan terbentuknya ekosistem industri musk yang lebih baik, hanya caranya bukan dengan mengesahkan RUU ini” ujar Jerinx, drummer Superman Is Dead, seperti yang dilansir musik.kapanlagi.com.

Akhirnya, muncullah petisi mengenai penolakan RUU ini di website Charge.org yang kini sudah mencapai 235 ribu tandatangan. Musisi wanita, Danilla Riyadi, mengatakan, “Bahkan terdapat banyak pasal yang tumpeng tindih dengan beberapa Undang-Undang; Undang-Undang Hak Cipta, Undang-Undang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, dan Undang-Undang ITE”

Terdapat banyak hal yang membuat para pelaku musik gerah, adanya sertifikasi dan uji kompetensi, dilarangnya membuat musik provokatif, dan lain-lain.

Ada beberapa pihak yang mengatakan, bahwa dengan nadanya RUU Permusikan ini mampu memajukan industri musik ke ranah yang lebih luas. Seperti yang kita tahu, sebenernya sudah banyak musisi Indonesia yang sudah bermain hingga ke luar negeri, salah satunya adalah Elephant Kind yang sempat bermain di Singapore pada November lalu. Masih banyak musisi lain yang sudah bermain bukan di tanahnya sendiri.

Pengamat musik, Wendi Putranto, menyatakan jika RUU Permusikan, disahkan, maka aka nada konser penolakannya, “Kalau dari kita sikapnya tegas, kita menolak RUU Permusikan ini. Tapi kalau mau dilanjutkan, berarti kita akan bertemu tanggal 9 Maret nanti di lapangan bersama puluhan ribu musisi dari seluruh Indonesia” ujarnya.

“Seni itu sendiri merupakan bahasa, sehingga penggunaan label berbahasa Indonesia pada karya seni seharusnya tidak perlu diatur” Putri Chitara (Barasuara)

(M. Nazif A`zam & Raisul Haqi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.