Tauhid dan Kebaikan Peradaban

0
62

Oknews.co.id – Kalimat tauhid bagi kaum muslimin, khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kalimat yang sudah tidak asing lagi, karena tauhid bagi mereka adalah suatu ibadah yang wajib dilaksanakan dlam kehiduppan sehari-hari dan yang pertama kali didakwahkan sebelum yang lainnya. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى,

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan), ‘Beribadahlah hanya kepada Allah, dan jauhilah thaghut…” (QS. An-Nahl: 36)

Tauhid (اﻟﺘﻮﺤﻳﺪ) secara bahasa berasal dari kata (ﺘﻮﺤﻴﺪا  ﻮﺤﺪﻩ) yang bermakna (ﻮاﺤﺪا  ﺠﻌﻟﻪ) yaitu, “Membuat sesuatu menjadi satu atau mengesakannya.” Adapun secara istilah yang dimaksud dengan tauhid adalah,

“Mengesakan Allah سبحانه وتعالى dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wash shifat.”

Lawan dari tauhid adalah syirik yaitu menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi-Nya rububiyyah, uluhiyyah dan asma’ wash shifaat. Tauhid berarti hanya beribadah kepada Allah saja.

A) Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allah adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

… Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-A’raaf/7: 54]

 

B) Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’aanah (minta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

Sungguh Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apa pun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya (apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah atas perbuatan syiriknya). [Lihat An-Nisaa/4: 48, 116]

C) Tauhid Asma’ wa Shifat Allah

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu berupa Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Sifat-Sifat Allah, baik yang terdapat di dalam Al-Qur-an maupun dalam As-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil. (Bariyah Umniyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.