Tausiyah Online: Ust Syarif Hidayatullah – 3

0
52

Hakekat Lailatul Qadar

Allah subhanahu wa ta’ala dengan rahmatNya menyiapkan bagi hamba-hambaNya kesempatan untuk mendapatkan suatu keutamaan dan keberkahan berlipat yang tidak di dapatkan pada kesempatan yang lain. Kesempatan itu mulai dari durasi harian seperti di sepertiga malam terakhir, durasi pekanan seperti hari Jum’at maupun tahunan seperti di bulan Dzulhijjah dan Ramadhan. Di bulan Dzulhijjah terdapat 10 hari pertama yang berkah, di mana amal shaleh di dalamnya lebih utama dari beramal shalih di luar hari-hari tersebut. Khusus di bulan Ramadhan terdapat 10 hari terakhir di mana Nabi shallallu ‘alaihi wa sallam meninggkatkan intensitas beribadah dan kesungguhannya mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan beri’tikaf di Masjid.

I’tikaf adalah berdiam diri (al-muktsu) dengan mengkonsentrasikan hati, pikiran dan badan hanya untuk penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Secara fiqih orang yang beri’tikaf (al-mu’takif) dilarang untuk keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang dibenarkan atau udzur syar’i. Puncak dari larangan itu adalah mubasyarah (bersetubuh/hubungan seksual) sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187 :

…وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Mubasyarah dalam ayat tersebut menurut ahli tafsir adalah berjima’ (hubungan seksual) dan termasuk di dalamnya ciuman dan rabaan apabila disertai dengan syahwat. Ayat di atas tidaklah dimaksudkan untuk melakukan hubungan seksual di masjid-masjid; bahkan di luar i’tikaf pun hal itu tidak diperbolehkan dilakukan di dalam masjid, akan tetapi  ayat ini turun kepada kaum yang mereka keluar dari masjid padahal sedang i’tikaf menuju rumah-rumah mereka dengan hajat yang berbeda, dan tidak dapat dipungkiri bahwa salah seorang di antara mereka akan melakukan hubungan, oleh karena itu mereka dilarang melalui ayat ini.

Tujuan paling utama dari i’tikaf ini adalah menanti apa yang disebut dengan lailatul qadr. Lailatul qadar adalah malam kemuliaan, malam yang diberkahi (lailah mubarakah) malam yang lebih baik dari seribu bulan (khairun min alfi syahr), malam di mana ditetapkannya urusan-urusan yang baik yang penuh kebijakan (yufraqu kullu amrin hakim) dan pada malam ini para malaikat turun membawa kedamaian dan ketenangan hingga terbitnya fajar (salaamun hiya hatta math’la’il fajr).

Begitu mulianya malam ini, hingga Allah subhanahu wa ta’ala menetapkannya sebagai waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan di malam yang diberkahi (QS. Ad-Dukhon : 1) dan malam yang dimuliakan (QS. Al-Qadr : 1). Sungguh Al-Qur’an dipenuhi dengan kemulian dan keberkahan. Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Mulia Pemilik Keberkahan yang menurunkannya, Jibril malaikat yang penuh keberkahan mengantarkannya, bulan Ramadhan yang berkah ditetapkannya sebagai saat pertama diturunkannya, dipilihnya lailatul qadar malam yang mulia dan diberkahi saat Al-Qur’an diturunkan dan diterima wahyunya oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberkahi. Karena itulah Al-Qur’an disebut dengan kitab mubarak (QS. Shad : 29).

Rangkaian ibadah yang dilakukan saat menanti malam lailatul qadar bermuara pada doa. Karena inti ibadah adalah berdoa, munajat kepada Sang Pencipta. Itulah kenapa Ummul Mukminin sayyidah A’isyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang doa apa yang sebaiknya dipanjatkan saat menjumpai lailatul qadar. Hadits yang membicarakan doa ini adalah sebagai berikut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja aku tahu bahwa suatu malam adalah malam lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ’ANNII(artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” 

(HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Lihatlah bagaimana Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa terbaik di malam terbaik, yaitu doa memohon al-‘afwu, yang tidak sekedar memohon ampunan tetapi juga penghapusan dosa. Al-‘Afwu hampir semakna dengan al-Maghfirah, yaitu ampunan. Keduanya disandingkan dalam doa Al-Qur’an di akhir surat al-Baqarah ayat 286 :

وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ

Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.

Lantas apa perbedaan antara al-‘afwu dengan al-maghfirah ? Sejenak marilah kita simak pendapat Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah yang dikutip dari rumaysho.com berikut ini :

الْعَفوّ : هُوَ الَّذِي يمحو السَّيِّئَات ، ويتجاوز عَن الْمعاصِي ، وَهُوَ قريب من الغفور ، وَلكنه أبلغ مِنْهُ، فَإِن الغفران يُنبئ عَن السّتْر، وَالْعَفو يُنبئ عَن المحو، والمحو أبلغ من السّتْر

“Al-‘afuwwu (Maha Memberikan Maaf) artinya Allah itu menghapuskan kesalahan-kesalahan dan memaafkan maksiat yang diperbuat. Kata al-‘afuwwu (Maha Memberikan Maaf) dengan kata al-ghafur (Maha Pengampun) hampir semakna, namun makna al-‘afuwwu lebih luar biasa kandungannya. Karena al-ghufraan (pengampunan dosa) yang dimaksud adalah menutupi dosa, sedangkan al-‘afwu yang dimaksud adalah menghapus dosa. Menghapus dosa tentu saja lebih luar biasa kandungan maknanya dibanding dengan menutupi dosa.” (Al-Maqshad Al-Asna, hlm. 140).

Akan tetapi, ada pendapat lainnya yang menyatakan bahwa makna al-maghfirah (mengampuni) lebih luar biasa dibanding al-‘afwu (memaafkan, menghapus). Al-maghfirah bermakna menutupi, menggugurkan hukuman, dan meraih pahala. Sedangkan al-‘afwu tidak berakibat menutupi dosa dan meraih pahala.

Menurut Al-Ghazali al-‘afwu lebih luas dari al-maghfirah, karena al-‘afwu menghapus dosa sedangkan al-maghfirah menutup dosa. Itu berarti bahwa seseorang yang menjumpai lailatul qadar diajarkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dihapuskan dosa-dosanya. Adakah yang lebih baik dari diampuninya dosa-dosa kita oleh Allah subhanahu wa ta’ala ? Puasa yang kita lakukan sebulan ini untuk memperoleh ampunan atas dosa-dosa yang lalu, demikian juga dengan sholat tarawih, bahkan qiyam ramadhan yang kita dirikan di malam lailatul qadar adalah untuk memperoleh ampunan atas dosa yang lalu.

Tidak ada manusia yang tak berdosa, sejak manusia yang pertama hingga terakhir akan berbuat dosa. Dalam kehidupan Nabi Adam alaihis salam, beliau bersama istrinya melanggar larangan Allah ta’ala untuk mendekati sebatang pohon yang oleh Iblis diberi nama pohon khuldi (syajaratul khuldi). Godaan dan rayuan Iblislah yang membuat Nabi Adam alaihis salam dan istrinya sampai berbuat dosa. Namun keduanya segera menyadari kesalahan itu dan memohon ampunan Allah dengan untaian doa yang diabadikan Al-Qur’an dalam surat Al-A’raf ayat 23 sebagai berikut :

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

Arti: Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Adam alaihis salam sangat memahami bahwa jika tanpa ampunan dan kasih sayang Allah ar-Rahman maka mereka akan sangat merugi. Kisah hidup Adam alaihis salam sesungguhnya gambaran sederhana dari segala hal tentang kehidupan manusia. Dalam hidup ini manusia diperintahkan beramal untuk mendapatkan pahala di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam beramal itu diharuskan untuk mengikuti petunjuk yang dibawa oleh Nabi yang menjadi utusan Allah subhanahu wa ta’ala.. Beramal sesuai petunjuk itu bukan tanpa halangan, karena Iblis telah berkomitmen untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Di sinilah kemudian manusia terjerumus ke dalam dosa, dan apakah dia segera menyadarinya atau tidak untuk kemudian bertaubat kepada Allah ta’ala  bergantung pada kualitas ketakwaannya. Orang yang bertaqwa memiliki kesadaran yang luar biasa ketika terjerumus ke dalam dosa, yaitu segera menyadari dan mengingat Allah dan kemudian memohon ampun atas kesalahannya. Hal ini disinyalir dalam Al-Qur’an surat Ali-Imron ayat 135 sebagai berikut :

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Arti: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Orang bertaqwa bukanlah orang yang tidak berdosa sama sekali, karena hal itu tidak mungkin. Orang yang bertakwa adalah orang yang apabila terjerumus dalam dosa dan kesalahan segera menyadarinya untuk kemudian memohon ampunan Allah subhanahu wa ta’ala. Di sinilah korelasi doa malam lailatul qadar dan ibadah puasa yang bertujuan untuk menjadikan manusia bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah anugerahkan kepada kita semua derajat ketaqwaan, aamiin.

M. Syarif Hidayatullah
(Penyuluh Agama Islam pada Kantor Kementerian Agama Kota Batu-Jawa Timur)

Editor: Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.