Tausyiyah Online: Ust. Syarif Hidayatullah-2

0
170

Dahsyatnya 10 Hari Terakhir Ramadhan

Sejak matahari tenggelam di ufuk barat kemarin petang, kita sudah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan tahun 1441 Hijriyyah. Sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki kebaikan dan keistimewaan. Di dalamnya tersedia pahala yang berlipat dan berskala besar bagi setiap Muslim yang terus berusaha meningkatkan amal shalihnya setelah melewati 20 hari bulan berkah nan mulia ini.

Tak heran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun benar-benar memanfaatkan 10 hari terakhir ini dengan mengajak keluarganya untuk meningkatkan frekuensi taqarrub kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummul Mukminin A’isyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر من رمضان ما لا يجتهد في غيره 

Artinya : “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan tidak seperti pada hari-hari sebelumnya “.

 

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dan Muslim dalam shohih mereka dari Ummul Mukminin A’isyah radhiyallahu ‘anha berkata,

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من رمضان –أحيا الليل و جد و شد مئزره وأيقظ أهله .

Artinya : “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” 

 

Dalam hadist ini maksud dari menghidupkan malam-malamnya yaitu dengan melaksanakan sholat malam, berdzikir, berdo’a, dan maksud membangunkan istri-istrinya adalah membangunkan dari tidurnya agar bersungguh-sungguh dalam beribadah seperti menunaikan sholat, berdzikir, bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Adapun maksud dari mengencangkan tali sarungnya sebagaimana dikatakan oleh kebanyakan ulama adalah kinayah dari menjauhi istrinya guna bersungguh-sungguh dalam ibadah, oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ibadah i’tikaf di dalam masjid dan memutuskan dari segala urusan dunia dan menyendiri menghadapkan diri kepada Allah subhaanahu wa ta’ala untuk berdzikir, berdo’a dan bermunajat.

Kedua hadits tersebut menunjukkan keutamaan 10 hari terakhir Ramadhan. Keutamaannya dilihat dari bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nampak lebih produktif dalam beramal dan beribadah di banding hari-hari yang lain. Beliau hidupkan malamnya dengan qiyamul lail, membaca al-Qur’an, berdzikir dan beristigfar dalam rangkaian i’tikaf penuh keta’atan, ketundukan dan kekhusyu’an kepada Sang Maha Rahman. Lebih dari itu beliau juga mengajak serta keluarganya menuju keridhoan Allah subhaanahu wa ta’ala untuk mendapatkan lailatul qadr, malam kemulian yang lebih baik dari seribu bulan.

Memanfaatkan 10 malam yang penuh berkah ini tak boleh terlewatkan dalam kehidupan seorang muslim. Inilah di antara kesempatan yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya sebagai wujud kasih sayangNya. Karena itu jangan biarkan waktu yang berharga ini berlalu begitu saja tanpa ada ibadah yang kita lakukan.

Kenyataan yang ada, tidak sedikit kaum muslimin yang melewatkan kesempatan emas ini, mereka hidupkan malam-malam mereka dengan susuatu yang tidak bermanfaat, nihil ibadah bahkan cenderung menjerumuskan diri dalam kemaksiyatan. Mereka tertidur saat tiba waktu untuk qiyamul lail, tak ada ayat-ayat suci yang terlantunkan, tak ada sedekah yang tersalurkan, tak ada dzikir dan istghfar yang terucapkan, tak ada doa-doa yang terpanjatkan, sungguh merupakan kerugian yang besar.

Ini adalah jerat setan yang ditujukan pada mereka yang lalai dari tujuan hidupnya. Hidup hakikatnya adalah beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyaat : 56). Setan selalu menghalangi hamba Allah dari beribadah kepada-Nya. Namun mereka yang ikhlas menjalankan ibadah dalam hidup ini tak mampu terjerat oleh bisik rayu setan karena adanya perlindungan Allah subhaanahu wa ta’ala pada mereka. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr ayat 42 sebagai berikut :

إِنَّ عِبَادِى لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ

Artinya : “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat”.

 

Dalam  Tafsir Al-Mukhtashar Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) disebutkan, “Sesungguhnya hamba-hambaKu yang ihklas kepadaKu, Aku tidak akan menjadikan bagimu kekuasaan terhadap hati-hati mereka untuk menyesatkan mereka dengan itu dari jalan lurus. Akan tetapi, kekuasaanmu hanya ada pada orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang sesat lagi menyekutukan Allah yang rihda dengan kekuasaanmu dan ketaatan kepadamu, sebagai ganti ketaatan kepadaku.”

Jadi jelaslah hanya orang yang mengikuti setan yang mudah terjerat untuk mengabaikan kesempatan berharga di 10 hari terakhir Ramadhan. Hati dan akal mereka tertutup untuk melihat limpahan kasih sayang Allah subhaanahu wa ta’ala. Godaan kenikmatan dunia yang sesaat menjadi jerat ampuh setan untuk memalingkan hamba-hamba Allah dari beribadah dalam memanfaatkan 10 hari terakhir ini.

Di antara keutamaan yang melekat pada 10 hari terakhir Ramadhan adalah sunnah i’tikaf yang merupakan amalan utama di bulan Ramadhan. I’tikaf adalah berdiam di masjid untuk memfokuskan diri pada keta’atan dan ibadah, meninggalkan hiruk pikuk dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri beliau dan para sahabat yang mulia melaksanakan I’tikaf di bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beri’tikaf di 10 hari pertama Ramadhan, kemudian pernah pula beri’tikaf di 10 hari pertengahan Ramadhan, dan kemudian beri’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Bahkan beliah pernah beri’tikaf di 20 hari terakhir menjelang wafatnya. Berikut sejumlah hadits tentang I’tikaf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه « أن النبي صلى الله عليه وسلم اعتكف العشر الأول من رمضان ، ثم اعتكف العشر الأوسط ، ثم قال : ” إني أعتكف العشر الأول ألتمس هذه الليلة ثم أعتكف العشر الأوسط ” ، ثم أتيت فقيل لي : ” إنها في العشر الأواخر فمن أحب منكم أن يعتكف فليعتكف »

Artinya : Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di 10 hari pertama Ramadhan, kemudian beri’tikaf di 10 hari pertengahan, kemudian beliau berkata : “Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” (HR. Muslim).

عن عائشة رضي الله عنها قالت : « كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفَّاه الله عز وجل ثم اعتكف أزواجه من بعده »

Artinya : Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari dan Muslim).

وعنها أيضا قالت : « كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام ، فلما كان العام الذي قُبِضَ فيه اعتكف عشرين يوما »

Artinya : “Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Pada tahun dimana beliau akan wafat beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. al-Bukhari).

 

Secara syari’at i’tikaf dilaksanakan di masjid. Inilah pendapat mayoritas ulama. Namun di tengah pandemi covid 19 yang melanda dunia saat ini, pemerintah dan ulama mengharuskan masyarakat tetap berada di rumah dan membatasi interaksi soaial dalam rangka memutus penyebaran virus korona. Karena alasan itu, i’tikaf dapat dilakukan di rumah, lebih utama jika di dalam rumah terdapat ruang khusus sebagai musholla, Jika tidak terdapat ruang khusus maka dapat menyediakan ruang yang tersedia sebagai tempat beri’tikaf.

Lantas apakah hikmah yang bisa kita peroleh dari melaksanakan i’tikaf? Ibn al-Qayyim rahimahullah  dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad mengatakan, “Kebaikan dan konsistensi hati dalam berjalan menuju Allah tergantung kepada terkumpulnya kekuatan hati kepada Allah dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati secara total kepada-Nya, -karena hati yang keruh tidak akan baik kecuali dengan menghadapkan hati kepada Allah ta’ala secara menyeluruh-, sedangkan makan dan minum secara berlebihan, terlalu sering bergaul, banyak bicara dan tidur, merupakan faktor-faktor yang mampu memperkeruh hati, dan semua hal itu bisa memutus perjalanan hati menuju kepada-Nya, atau melemahkan, menghalangi, dan menghentikannya.

Jadi beri’tikaf hakikatnya membersihkan hati dan jiwa (tazkitatun nafs). Hati yang bersih dari berbagai kotoran syahwat duniawi dan penyakit hati lainnya akan memudahkan seorang hamba menuju Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah anugerahkan kita hati yang bersih, hati yang selamat (qolbin salim) sebagai bekal kita menghadap-Nya, aamiin.

M. Syarif Hidayatullah
(Penyuluh Agama Islam pada Kantor Kementerian Agama Kota Batu-Jawa Timur)

Editor: Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.