The Story of Bilal

0
66

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.”

[HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 2458].

Hadits tersebut menunjukkan anjuran untuk melakukan shalat sunnah setelah wudhu. Sering dikenal dengan sebutan syukrul wudlu. Hadits ini menunjukkan ada amalan ringan dan singkat karena hanya dua menit, namun berpahala besar.
Shalat syukrul wudhu adalah shalat yang dikerjakan setelah berwudhu. Meskipun melaksanakan shalat sunnah wudhu ini hukumnya sunnah, ketika ada waktu untuk melaksanakan, dianjurkan untuk melaksanakan agar mendapatkan pahala dan keistimewaan masuk surga beserta atribut yang disukai.

Setelah berwudhu tidak ngobrol atau buka hp lihat setatus, atau membuka konten, tetapi langsung tidak dijeda oleh amalan lain segera melakukan shalat dua rakaat setelah selesai berwudhu, berdasarakan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu,ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ يُقْبِل بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya (mendapatkan) surga.” (HR. Muslim, no. 234)

Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22)

Bilal bin Rabah berasal dari Habsyah, -sekarang Ethiopia- termasuk As-Sabiqun al-Awwalun, yakni yang pertama kali masuk Islam. Dia satu dari 5 orang yang pertama kali beriman kepada Allah SWT dan mengakui kenabian Muhammad SAW. Bilal termasuk di antara salah satu sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Ini seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam

فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ

… “Sesungguhnya aku mendengar suara dua sandalmu di hadapanku di surga”.

suatu ketika bakdza shalat Subuh, Rasulullah SAW bertanya kepada Bilal, ‘Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam. Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara sandalmu di depanku di surga,”

Bilal RA menjawab, “Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan shalat (sunah) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.” Hadis ini termasuk jenis hadis persetujuan Nabi SAW. Hadis secara terminologi adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW baik berupa ucapan, perbuatan,keputusan, diamnya Nabi SAW maupun persetujuannya.
Contoh hadits yang berupa ucapan beliau adalah,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, Allah akan menjadikannya orang yang faqih (dipahamkan pada agama yang benar) dalam ilmu agama.” (HR. al-Bukhari no. 71)

Contoh hadits yang berupa perbuatan

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ.

Dari Ibnu Abbas RA, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Kedermawanan beliau semakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril menjumpai beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan dan mengajari beliau al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari no. 6)

Contoh hadits yang berupa persetujuan adalah ketika beliau membiarkan sahabat Abu Umair memelihara burung lalu burungnya mati. Nabi SAW bersabda,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ نُغَيْرٌ؟

“Wahai Abu Umair, ada apa dengan nughair (nama burung kecil tersebut)?” (HR. al-Bukhari no. 6129)

Amalan spesial lainnya dari Bilal bin Rabah adalah sebagai muadzin semasa Rasul hidup. Dipilih demikian karena Bilal memiliki suara yang indah dan lantang sehingga bisa terdengar hingga jarak yang jauh. Dia pun mendapat gelar sebagai Muadzin Rasulullah. Dialah yang senantiasa mengumandangkan adzan setiap shalat wajib tiba.

Posisi Bilal sebagai penyeru panggilan adzan tak tergantikan. Bahkan saat penaklukan Kota Makkah, Rasulullah memerintahkan Bilal mengumandangkan adzan di atas Kakbah, sebuah kehormatan luar biasa baginya. Tak sembarang orang bisa naik ke Kakbah.

Ketika Rasulullah wafat pada Senin 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah atau pada 8 Juni 633 Masehi, Bilal bin Rabbah memutuskan berhenti menjadi Muadzin Rasul. Dia tak kuasa menahan kesedihan ditinggal Rasulullah.
Setiap kali mengumandangkan adzan, sampai pada lafal, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, tangisnya pecah dan lidahnya kelu, suara terhenti. Hanya dam tercenung. Tak sanggup menahan kesedihan, Demikian terjadi berulang sehingga Bilal memutuskan meninggalkan Madinah.
Bilal akhirnya minta izin kepada Khalifah Abu Bakar as Siddiq untuk meninggalkan Madinah dan ikut berjihad dengan pasukan muslimin lain di Syam. Abu Bakar sebenarnya tak ingin melepas Bilal, tapi ia tak kuat menahannya. Bilal tinggal di Homs. Syam.

Di Syam, Bilal menikahi seorang perempuan salehah dan menetap di sana. Bilal tak sempat melihat Abu Bakar wafat dan kepemimpinannya akhirnya digantikan oleh Umar bin Khattab.

Suatu malam, istri Bilal mendapati sang suami menangis saat terbangun dari tidurnya. Istrinya bertanya mengapa muadzin teladan itu berurai air mata. Bilal mengaku bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang sangat dirindukannya. Dalam mimpi tersebut, diceritakan bahwa Rasulullah SAW menegur Bilal lantaran dirinya sudah tak pernah lagi mengunjungi Madinah dan makam Rasulullah SAW. Bilal akhirnya kembali ke Madinah.

Umar bin Khattab dan penduduk Madinah menyambut gembira kembalinya Bilal. Mereka selama ini merasakan kehilangan Sang Muadzin kebanggaan mereka. Umar bin Khattab menghampirinya, dan memintanya untuk kembali mengumandangkan adzan seperti dahulu yang sering ia lakukan semasa Rasulullah SAW. Lima tahun Bilal tidak pernah adzan di Masjid Nabawi, begitu mengumandangkan adzan, tidak terduga sebelumnya, persis seperti terakhir memutuskan mengakhiri adzan, sekarang terulang, berhenti di kalimat asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, lidahnya kelu, hati bergetar, kerongkongan kering, dan ujungnya hanya mengurai air mata. Kecintaan Bilal pada Rasulullah tidak tergantikan oleh siapapun, sehingga setiap ada nama kekasihnya disebut ia hanya bias mengenang masa indah, lalu menetes air mata, dan ia pun segera bershalawat atas Nabiyullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.